MAJALAH HATI BERIMAN "MAJALAH BERITA WARGA KOTA SALATIGA"

30 Juli 2007

Kilas Balik Salatiga Pasca Penjajahan

Tanggal 24 Juli 2007 merupakan hari yang sangat istimewa bagi warga kota Salatiga. Sebab, warga yang tinggal di kota kecil, tepatnya di kaki gunung Merbabu ini memperingati hari jadi Salatiga ke 1257.

Sayang, tidak banyak buku yang mengungkap bagaimana perjalanan sejarah Salatiga, baik yang menyangkut pemerintahan, kepemimpinan dan kondisi masyarakat Salatiga masa lalu. Kalau toh ditemukan, hanya informasi yang sepotong-sepotong dan itupun bersifat cerita rakyat.

Beruntung seorang warga Salatiga Bapak MS. Handojo (alm.), pada tahun 1985, membuat tulisan singkat tentang pemerintahan di Salatiga. Bagaimanapun tulisan ini sangat berharga dan bermanfaat bagi generasi sesudahnya. Karena catatan sejarah tidak sekadar kumpulan peristiwa masa lalu yang bersifat romantisme, namun lebih dari itu sejarah mampu menjadi cermin hidup bagi generasi selanjutnya.

Handojo mencatat, kemerdekaan Republik Indonesia memang telah diproklamrkan pada 17 Agustus 1945, oleh Ir Soekarno dan Moh Hatta. Namun, stabilitas nasional tercatat baru dirasakan pada tahun 1950-an, setelah tentara Hindia Belanda benar-benar mengakui dan menyerahkan kedaulatan kepada pemerintah Indonesia.

Salatiga Dipimpin Pejabat Walikota

Peristiwa ini sangat mempengaruhi pula kondisi di daerah, termasuk di Kota Salatiga. Pada saat itulah Salatiga yang waktu itu berstatus sebagai Kota Praja dipimpin oleh seorang Pejabat Walikota Salatiga MS. Handjojo. Sejatinya, Handjojo merupakan Patih Semarang. Namun karena menerima tugas dari Residen Malino untuk mengisi kekosongan Kotapraja Salatiga, maka ia akhirnya merangkap jabatan sebagai Pejabat Walikota Salatiga.

Diceritakan, untuk mengisi kepegawaian di Pemerintahan Kotapraja Salatiga, Pejabat Walikota Salatiga membuat surat edaran kepada semua pegawai Kotapraja lama yang ingin kembali menjadi pegawai. Gayung bersambut, dalam situasi Negara yang semakin stabil itu maka banyak pegawai lama memutuskan untuk kembali bekerja dan mengabdi di kantor Pemerintah Kotapraja Salatiga.

Setelah satu masalah berhasil diatasi, masalah baru muncul. Mengingat Kotapraja Salatiga sudah tidak mempunyai kantor sendiri. Pada saat itu dicarilah gedung yang pantas sebagai pusat perkantoran Kotapraja. Atas bantuan Kapten Moehari yang waktu itu menjadi KMK Salatiga, maka dapatlah disewa gedung kepunyaan Baron Van Hekeren Van De Sloot, yang semula dipakai untuk Markas Polisi Tentara. Gedung milik Baron Van Hekeren Van De Sloot yang sekarang berada di Jalan Letjend Sukowati tersebut masih menjadi Pusat Pemerintahan Kota Salatiga.

Walikota Baru Dilantik

Setelah melewati masa transisi Pemerintahan Kotapraja yang hanya dipimpin seorang Pejabat Walikota, akhirnya pada Kamis Kliwon, 1 Juni 1950 datanglah Walikota Salatiga yang baru bernama R. Patah. Beliau adalah Pejabat Asisten Residen Salatiga pada zaman Pemerintahan Jepang, dan pernah diperbantukan sebagai pegawai tinggi Kantor Karesidenan Semarang.

Serah terima jabatan Walikota dilakukan pada hari itu juga, dari Pejabat Walikota MS. Handjojo kepada Walikota baru R. Patah. Usai acara tersebut, R. Patah minta pamit pergi ke Solo dengan istri dengan mengendarai mobil untuk mengurus boyongannya.

Sebagai seorang Walikota baru, R. Patah tidak berlama-lama berada di Solo. Esok harinya, pada tanggal 2 Juni 1950, beliau bersama istri berangkat dari Solo menuju Salatiga naik mobil Chevrolet hitam Nopol H-9, dengan memasang bendera Merah Putih kecil di depan.

Sesampainya di pos penjagaan keamanan di Desa Sruwen, Tengaran, Kabupaten Semarang, sekitar pukul 17.00 WIB, penjaga keamanan memberi isyarat dengan melambaikan tangan. Pengemudi auto (mobil) menafsirkan isyarat tersebut agar berjalan pelan-pelan, tidak mengerti kalau harus berhenti. Pada waktu mobil lewat di depan penjagaan mobil tidak dihentikan. Akhirnya mobil tetap berjalan pelan-pelan. Namun, setelah mobil melewati pos langsung terdengar dua kali tembakan. Sebuah peluru menembus dari belakang mobil dan mengenai kepala R. Patah, yang mengakibatkan wafatnya beliau.

Jenazah orang nomor satu di Salatiga itu akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit Umum Salatiga. Keesokan harinya, setelah jenazah disucikan dan dimasukkan peti, kemudian disemayamkan sebentar di Kantor Kotapraja Salatiga (di kamar depan sebelah kiri) untuk disembahyangkan dan menerima penghormatan terakhir. Selanjutnya jenazah dikebumikan di makam Bonoloyo Solo.

Setelah peristiwa itu, Patih Semarang yang juga mantan Pejabat Walikota Salatiga MS. Handjojo, kembali ditunjuk sebagai Pejabat Walikota Salatiga, sampai datangnya Walikota baru, yakni hingga akhir September 1950.(ano/sumber HB Mei-Juni 2002)

Walikota Salatiga Sejak Tahun 1950

1. R. PATAH (1950)

2. M. SOEDIJONO (1950-1957)

3. SOEWANDI MARTOSEWOJO (1957-1961)

4. BAKRI WAHAB (1961-1966)

5. LETKOL S.SOEGIMAN (1966-1976)

6. KOL. POL. S. RAGIL PUDJONO (1976-1981)

7. DJOKO SANTOSO, BA (1981-1986)

8. DOELRACHMAN PRAWIRO SOEDIRO (1986-1991)

9. Drs. INDRO SUPARNO (1991-1996)

10. Drs. SOEWARSO (1996-2001)

11. H. TOTOK MINTARTO (2001-2007)

12. JOHN M. MANOPPO, SH (2007- sekarang)

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Boleh tahu riwayatnya R PATAH Walikota 1 Salatiga ? Silsilah keluarga dll-nya. Saya sangat memerlukannya(bisa di email ke fx.hupudhio@danamon.co.id

Matur Nuwun,
Agung

Heri mengatakan...

Saya cucunya...
Putra putrinya ada 6...2 putra, 4 putri..
Ibu saya anak nomor 3...

Keterangan selanjutnya bisa dijelaskan sama p dhe Nur hadi... Putra simbah patah... Beliau skrg di pekalongan....

Unknown mengatakan...

Kl boleh tahu makam beliau di bonoloyo sblh mana ya R Patah walikota 1 salatiga di makamkan.....🙏🙏

yeka johar mengatakan...

boleh kami wawancara pak

 
template : Copyright @ 2010 HUMAS SETDA KOTA SALATIGA. All rights reserved  |    by : boedy's