MAJALAH HATI BERIMAN "MAJALAH BERITA WARGA KOTA SALATIGA"

28 Desember 2007

193 Pedagang Terjaring Operasi Yustisi

Sebanyak 193 pedagang kios Pasar Blauran, Salatiga, terjaring operasi yustisi mengenai penegakan perda pasar, pada tanggal 27 November 2007. Kebanyakan pedagang memang belum memiliki surat izin penempatan (SIP). Dari 200 kios baru yang mengambil tempat usaha di pasar tersebut sejak tahun 2005, hanya tujuh kios yang sudah memiliki SIP.

Totok Sugiarto, Kasi Perijinan Dinas Pasar dan Pembinaan PKL, mengungkapkan, perkembangan dan perubahan kesibukan pasar memang cepat sekali. Semakin banyaknya jumlah pedagang di pasar membuat Dinas Pasar merasa kesulitan dalam melakukan pembinaan. Lebih-lebih, banyak pedagang yang belum memiliki SIP. Keadaan ini tak terlepas dari ulah pihak developer yang tidak menyerahkan data konkret pemilik kios. Oleh karena itulah, operasi yustisi perlu dilaksanakan.

Dalam operasi tersebut, pedagang mendapat pembinaan agar mereka mengetahui kewajibannya sebagai pedagang di pasar. Dengan pembinaan ini, pedagang juga menjadi tahu cara mengurus SIP tanpa melalui calo. Kepemilikan SIP ini penting untuk menghindari sengketa kepemilikan kios mengingat dalam kurun waktu tiga tahun saja, sudah banyak kios yang berpindah tangan. Oleh karena itu, Dinas Pasar dan Pembinaan PKL berusaha meningkatkan kinerja untuk meningkatkan pendapatan asli daerah melalui manajemen pasar yang baik. Dinas Pasar dan Pembinaan PKL juga mewajibkan aparatnya untuk memberikan pelayanan kepada pedagang yang mengurus ijin usahanya dengan tertib dan tidak bertele-tele, tepat dan cepat.

Kepemilikan kios di Pasar Blauran adalah HGB (hak guna bangunan) selama 25 tahun. Jika masa berlaku HGB sudah habis, segala bangunan itu milik Pemkot Salatiga. Harga kios itu bervariasi. Kios dengan luas 3m x 4m yang lokasinya berdekatan dengan jalan berharga 35 juta, sedangkan kios yang berada di dalam pasar berharga 22 juta. Sementara, biaya pengurusan SIP untuk 3 tahun adalah Rp 145.000,00 dan dapat diperpanjang setiap tiga tahun dengan biaya Rp 45.000,00.

Karena begitu banyaknya jumlah pedagang, Tim Yustisi yang saat operasi berlangsung berada di lokasi tampak kewalahan memberikan pembinaan. Dalam operasi tersebut, pedagang yang belum memiliki SIP mendapat surat panggilan. Pada surat itu pedagang diminta hadir di Kantor Satpol Pamong Praja Jalan Letjen Sukowati 51, Salatiga, untuk mengurus administrasi pada 4 Desember 2007.(kst)

PKL Berbuah Prestasi

Berkarya sembari melaksanakan tugas wajib praktek kerja lapangan (PKL) merupakan program dual system pendidikan yang memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Sistem ini penting sebagai bahan referensi penilaian tentang kualitas kerja, bakat, karakter, dan kemampuan siswa secara obyektif.

Pasalnya, siswa tidak hanya membantu pekerjaan di lingkungan instansi/kantor atau perusahaan tertentu secara formal. Mereka juga berkesempatan untuk berkembang dengan memperoleh tambahan ilmu yang sesuai dengan bidangnya. Dengan cara ini, siswa diharapkan dapat berkembang, maju dan terarah, selain mendapat pengalaman bekerja.

Manfaat dari pengalaman seperti ini sangat dirasakan oleh Sidik Adi Wahono (17) dan M. Irfanu Riza (18). Kedua siswa jurusan Elektro Industri di SMK Negeri 2 Salatiga ini merintis prestasi melalui PKL di PT Yogya Presisi Teknikatama Yogyakarta. Berbekal ketekunan, disiplin, kreatifitas, dan dukungan dari team work tempatnya bekerja, pengarahan dari pihak sekolah di bawah pimpinan Drs. Reza Parlevi serta sponsorship, mereka mampu memodifikasi dan merancang barang-barang tepat guna yang efisien dan sederhana.

Dua siswa ini sudah menghasilkan tiga produk. Pertama, emergency LED, yakni produk untuk keadaan darurat. Bila lampu mati, maka alat ini akan otomatis menyala. Memang, saat ini sudah terdapat produk serupa di pasar. Namun putera Salatiga ini mampu mendesain lebih kecil, praktis, dan tahan lama dengan ketajaman terang yang tidak kalah dengan lampu yang ukurannya lebih besar. Tak hanya itu, produk ini juga dipastikan lebih hemat energi.

Kedua, otomatic lamp, yaitu produk yang menggunakan sensor intensitas cahaya matahari yang dapat menyesuaikan dengan waktu dan cuaca. Sekarang, produk serupa telah digunakan untuk lampu-lampu penerang jalan. Namun mereka mencoba mendesain lampu otomatis ini sedemikian rupa untuk kapasitas rumah tangga. Produk ini efektif untuk dipasang sebagai lampu teras karena akan menyala sendiri di malam hari dan mati dengan sendirinya di siang hari. Dengan demikian, pemilik rumah tidak perlu selalu mengingat-ingat lampu teras, sudah menyala atau sudah mati.

Ketiga, lampu otomatis untuk kamar mandi. Keistimewaan lampu ini adalah, saat seseorang masuk kamar madi, lampu akan menyala sendiri. Bila orang tersebut meninggalkan kamar mandi, lampu otomatis akan mati. Dengan begini, penghuni rumah dapat menghemat penggunaan listrik.

Di sela-sela kesibukannya mengikuti aktivitas pekerjaan di perusahaaan, mereka berhasil memberikan nilai plus melalui hasil rancangan tersebut. Sebagai tanda penghargaan dan simpati, manajemen perusahaan tersebut memberikan beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Bahkan, keduanya akan terus dilibatkan dalam riset dan perkembangan teknologi lebih lanjut.

Tentu saja , baagi dua pemuda itu, perkembangan seperti ini di luar dugaan mereka. Sebelumnya, mereka hanya berpikir akan mencari pekerjaan selepas SMK. Karena itulah, mereka sangat bersyukur karena jalan untuk meraih cita-cita dan harapan lebih tinggi telah terbuka.(ind)

22 Desember 2007

Sebuah Refleksi Natal dan Idul Adha

Solidaritas We di Kurikulum Sekolah

(Sebuah Refleksi Natal dan Idul Adha)



Oleh: Izak Lattu*)

Beberapa waktu lalu, Romo Budi Subanar, Ph.D, SJ, Koentjoro Ph.D, dan Mayang Diantami berbicara dalam diskusi Perdamaian Harus Masuk dalam Ajaran Sekolah. Mereka menjelaskan esensi perdamaian secara konkret yang harus diajarkan di sekolah. Tujuannya, murid menghargai perbedaan di antara mereka agar ketika hidup di masyarakat, semangat itu tertanam sehingga dapat mengantisipasi konflik akibat perbedaan ras, suku, agama, maupun golongan.

Semangat ini seperti yang diulas Dr. Farid Esack, muslim keturunan Malaysia, dari Afrika Selatan, dalam bukunya, Quran, Liberation and Pluralism. Buku ini menekankan pentingnya meninggalkan hubungan I (saya) dan you (anda) menjadi sebuah hubungan yang berbasis solidaritas, yaitu we (kita). Bagi Esack, pengalaman hidup berbasis solidaritas tanpa mengenal sekat primordialisme (solidaritas we) dialaminya secara langsung di masa kecil.

Masyarakat Afrika Selatan pada masa kecil Esack hidup dalam sistem apartheid (politik diskriminasi). Diskriminasi ini terutama terhadap orang kulit berwarna dan Afrika. Seluruh keluarga Esack yang berjumlah tujuh orang dihidupi oleh ibunya yang janda. Keluarganya kebetulan bertetangga dengan keluarga Kristen Afrika, yang kehidupan ekonominya di bawah rata-rata, yang setali tiga uang dengan keluarga Esack. Untuk menanggung beban ekonomi yang berat, kedua keluarga ini sering berbagi untuk kebutuhan sehari-hari.

Pengalaman inilah yang memicu Esack untuk melahirkan konsep solidaritas we (kami) sebagai bentuk dialog praksis yang nyata. Sebuah pengalaman hidup bersama yang melahirkan solidaritas suffering others (orang-orang yang menderita), meminjam istilah Paul Knitter (1993). Pengalaman kehidupan bersama yang dialami Esack adalah sungguh sebuah hubungan yang secara induktif membangun solidaritas kemanusiaan meski berlatar sosial berbeda. Jaring laba-laba solidaritas bersama terajut dari perbedaan pada galibnya melahirkan perdamaian sejati dalam sebuah masyarakat plural.

Hidup bersama secara pro-exitence (hidup berdampingan, saling memahami, dan membantu) seperti yang dipraktekan Esack ternyata dapat dengan gampang ditemui di masyarakat Salatiga. Seperti hubungan antara keluarga Titi (Islam) dan keluarga Stevanus Sunaryo (Kristen), warga Monginsidi IV, Salatiga. Meskipun berbeda agama, kedua keluarga ini saling membantu tanpa menghiraukan batas keyakinan. Model hidup seperti ini mempertegas solidaritas sosial seperti yang diinginkan semua agama secara ideal.

Dialog Sosial

Di era global seperti sekarang ini, ketika sekat pemisah masyarakat semakin tipis akibat derasnya arus informasi, perlu sebuah sikap baru dalam memandang orang lain. Sebab, kehidupan saat ini adalah kehidupan dalam sebuah global village (desa global) yang berinteraksi dengan sangat tegas. Karena itu, perlu penghargaan terhadap perbedaan. Penghargaan terhadap perbedaan membutuhkan pemahaman. Sedangkan pemahaman membutuhkan upaya untuk belajar dari orang lain. Dialog memberikan ruang yang cukup untuk proses saling belajar dan saling memahami. Oleh karenanya, Mohamad Khatami, mantan Presiden Republik Islam Iran, merasa perlu mengusulkan dialogue of civilizations (dialog antarperadaban) ketika berbicara di PBB New York, September 1998. Dialog ini merupakan jalan keluar untuk menghindari clash of civilizations (benturan antarperadaban) yang disinyalir oleh Samuel P. Huntington.

Dialog tidak sekadar percakapan, apalagi sebuah round table formal dengan peserta berdasi. Dialog adalah sebuah cara berpikir baru, melihat, dan merefleksikan dunia dan maknanya, dalam rangka mengafirmasi perbedaan. Karena itu, tujuan dialog menurut Leonard Swidler dan Paul Mojzes dalam The Study of Religion in an Age of Global Dialogue (2000:147) adalah supaya pihak-pihak yang terlibat dalam dialog terbuka untuk belajar dari orang lain, sehingga mereka tanpa paksaan dapat berubah dan bertumbuh ke arah penghargaan terhadap perbedaan secara positif.

Dialog juga termasuk interaksi sosial antarpemeluk agama, suku, ras, atau golongan yang berbeda. Pengalaman hidup sehari-hari adalah bentuk dari dialog berbasis common experience (pengalaman sehari-hari) yang memberikan perhatian pada tindakan nyata dan aspek kemanusiaan. Dengan demikian akan terjadi deep-dialogue (dialog mendalam) sehingga pihak yang berdialog mengalami mutual transformasi.

Di Indonesia, dialog sosial untuk menghadirkan perdamaian sejati dirasakan mendesak. Konflik di Maluku, Poso, Kalimantan, Papua, dan Aceh termasuk kerusuhan Mei 1998, merupakan indikasi perlunya dialog ini. Pengalaman konflik sosial itu, mendesak semua pihak untuk sungguh-sungguh mencari jalan meretas perdamaian sejati di Indonesia. Memang, ihwal konflik sosial di Indonesia tidak bisa serta-merta dicarikan kambing hitam. Namun, setidaknya diskusi Romo Banar dan kawan-kawan dapat menjadi satu rujukan penting. Sebagai bangsa, kita memerlukan pendidikan perdamaian. Persoalannya, pada sistem pendidikan Indonesia dari aras paling rendah sampai perguruan tinggi, tidak mencakup kurikulum yang secara serius dan terencana menggagas sebuah pendidikan perdamaian.

Pendidikan perdamaian dapat dilakukan secara formal (masuk kurikulum). Secara informal, pendidikan itu dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya, camping perdamaian bagi siswa/mahasiswa dengan latar agama, suku, dan pendidikan yang beragam. Pendidikan perdamian dapat menjadi ajang diskusi. Pendidikan ini dapat dirancang semacam dialog faith meets faith, yakni, orang dengan suku dan agama yang berbeda duduk bersama dan membicarakan titik temu dari berbagai perbedaan. Namun, titik temu tersebut tidak perlu dipaksakan bila ternyata tidak terjadi konvergensi karena tujuan utama dialog adalah saling memahami perbedaan. Bentuk lainnya adalah aksi bersama. Pada aras yang kecil, aksi bersama memungkinkan mereka lebih banyak berintereaksi dan melahirkan solidaritas yang kuat. Selain itu, kegiatan karitatif, seperti membersihkan rumah-rumah ibadah secara bersamaan, juga dilakukan dalam rangka menumbuhkan penghargaan terhadap perbedaan.

Pendidikan perdamaian hanya sebuah contoh kecil dari upaya membangun pintu masuk bagi perbedaan dalam rangka menghadirkan sebuah perdamaian Indonesia yang luhur. Kita berharap, pendidikan akan melahirkan generasi baru Indonesia yang mampu mengafirmasi perbedaan secara positif dan melihat sesamanya secara par cum pari (setara). Semoga.(*)

*)Pengajar pada Fakultas Teologi UKSW

Aktif di Forum Antar Iman Salatiga untuk Solidaritas Sosial (FAISSAL)

21 Desember 2007

Renungan Natal Tahun 2007

oleh : Drs. Petrus Resi,M.Si


Sama seperti menyongsong hari raya natal tahun-tahun sebelumnya,dalam rangka natal 2007 ini, gereja Katolik masing-masing keuskupan setempat di Indonesia, termasuk Keuskupan Agung Semarang, selalu mencanangan suatu tema masa adven yang sangat relevan dengan perkembangan sosial kemasyarakatan bangsa untuk direnungkan dan direflesikan secara mendalam oleh seluruh umat Katolik di setiap gereja paroki sebagai wujud konkret kesiapan hati dan budi serta ungkapan tobat umat Katolik menyambut kelahiran Yesus, juru selamat umat manusia. Tema adven tahun 2007 bagi Keuskupan Agung Semarang adalah “Pendidikan iman bagi anak dan remaja” yang dijabarkan dalam empat sub tema yang wajib direnungkan oleh seluruh umat lingkungan lewat empat kali pertemuan sarasehan dimasing-masing paroki se-Keuskupan Agung Semarang sehingga umat Allah mampu mengembangkan pola penggembalaan yang mencerdaskan umat beriman dan mendorong keterlibatan aktif umat dalam memangun habitus baru berdasarkan semangat Injil.

Secara hakiki tema dan sub tema adven natal 2007 ini mempunyai tautan yang sangat relevan dengan tingkat kesulitan yang dihadapi oleh semua orang tua masyarakat Indonesia pada umumnya dalam mendidik anak dan remaja di tengah arus globalisasi dewasa ini. Bagi orang tua yang beragama Katolik khususnya, tugas dan tanggung jawab mendidik anak berakar dan berdasar pada panggilan suami istri untuk berpartisipasi dalam karya penciptaan Allah, yaitu melahirkan, mendidik, dan mengembangkan anakanak. Hal seperti ini merupakan suatu konsekuensi atas perkawinan Katolik yang berpijak pada berkat rahmat sakramen perkawinan yang dimampukan untuk mencintai satu sama lain sebagai tanda nyata dan kelihatan dari cinta Kristus kepada umat manusia dan gereja. Bagi orang Katolik, perkawinan merupakan dasar terbentuknya komunitas yang lebih luas, yaitu keluarga yang diwujudkan dalam hubungan seksual berdasarkan kasih dan memampukan suami-istri untuk bekerja sama dengan Allah dalam memberikan kehidupan kepada pribadi manusia ( keturunan ) yang baru berupa anak manusia. Jadi kelahiran anak merupakan tanda kehidupan dan anak-anak adalah anugerah atau karunia Allah dari perkawinan yang paling luhur. Bahkan menurut keyakinan agama Katolik, anak-anak dilahirkan sebagai anugerah istimewa dari Allah karena merupakan gambar dan citra Allah sendiri. Dalam konteks perkawinan yang sangat sakral dihadapan dan oleh Allah sendiri, gereja Katolik mengajarkan bahwa tujuan perkawinan itu adalah terbuka pada keturunan dan pendidikan anak, maka setiap keluarga katolik selalu dipanggil dan diutus untuk menjadi tempat pendidikan utama dan pertama. Lewat keluarga inilah anak-anak dan remaja mulai dididik dalam segala yang baik dan benar, sehingga pendidikan orang tua terhadap mereka menjadi tidak tergantikan. Hak maupun kewajiban orang tua untuk mendidik anak dan remaja bersifat hakiki, sebab sangat berkaitan dengan penyaluran hidup manusiawi. Selain bersifat asali dan utama, peran orang tua dalam pendidikan anak dan remaja juga karena adanya keistimewaan hubungan cinta kasih antara orang tua dan anak-anak. Walau pendidikan orang tua terhadap anak dan remaja tak tergantikan dan tidak dapat diambil alih atau diserahkan kepada orang lain, tetapi dari perspektif sosial dan lingkungan, tiap orang tua termasuk keluarga Katolik masih tetap membutuhkan dukungan lembaga pendidikan baik swasta maupun negeri karena pendidikan bagi hidup manusia lewat sekolah memiliki arti dan makna yang sangat penting dan istimewa, yaitu membekali dan membentuk anak agar tumbuh secara seimbang dan sempurna sebagai manusia, baik dalam memahami aneka pengetahuan ( kognitif ), mengolah dan mengungkapkan emosi atau perasaan ( afektif ), maupun mempunyai ketrampilan untuk mengolah dan mengembangkan bakat dan kemampuan atauketrampilan ( psikomotorik ). Dari sini, semua orang tua dituntut untuk tetap mampu membangun hubungan kerjasama yang baik dan sinergis dengan lembaga pendidikan agar sebagai partner orang tua, sekolah termasuk sekolah Katolik, dapat memainkan peranannya secara optimal, yaitu mencerdaskan anakanak bangsa lewat penanaman nilai-nilai luhur hidup dan budaya bangsa, membekali ketrampilan hidup dalam masyarakat, serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang sesuai dengan zamannya. Dan, secara spesifik, keberadaan lembaga pendidikan, terutama sekolah Katolik bagi orang tua, Katolik tetap menjadi partner yang baik bagi orang tua karena sekolah Katolik mampu menciptakan hidup bersama siswa yang dijiwai semangat Injil, cinta kasih melalui pendidikan religiusitas, mendidik dan mengenalkan aneka nilai kemanusiaan( humaniora ) untuk menghargai perbedaan. Selamat Natal tahun 2007.

20 Desember 2007

Suara Salatiga "Dalam Radio"


Radio, kata itu sangatlah akrab di telinga dan tertanam di alam bawah sadar kita. Jika mendengarnya maka secara otomatis terbayang di benak kita, benda elektronik yang mengeluarkan suara tersebut. Bila membayangkan dapur siaran, maka terlintas dalam pikiran kita, ada seorang atau lebih sedang asik berbicara di depan mic. Bahkan ada pula yang tertawa sendirian tanpa sebab demi membuat suasana hidup siaran.

Jasa dan kiprah media elektronik yang satu ini tentunya tidak disangsikan lagi. Berikut paparan manager Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD Suara Salatiga), atau yang sekarang ini lebih akrab dengan nama SS FM, Boaz Rudi Martiama mengenai peran stasiun yang dikelolanya di tengah masyarakat.

Boaz, nama akrab beliau sangat berpengalaman dalam dunia yang satu ini. Sejak lulus SMA tahun 1983 sudah masuk dalam dunia siaran. Bahkan pada tahun 1989-1993, bersama dengan tiga temannya sebagai pengelola LPPI (lembaga penyiaran public Indonesia) Cabang Semarang.

Sejak tahun 2004 barulah Boaz masuk di RSPD Salatiga, sebagai pengelola iklan. Di tahun berikutnya 2005 barulah Radio Pemerintah Kota Salatiga ini berubah gelombang siaran dari AM ke FM. Pada tahun tersebut nama RSPD ditambah dengan RSPD Suara Salatiga FM. Terjadi pula perombakan sarana penunjang serta terdapat seorang investor yang menambah sumber daya manusianya, demikian pula peningkatan pendapatan para pekerjanya.

Nama Suara Salatiga diberikan adalah dengan maksud pendengar semakin global, asumsi yang selama ini merupakan radio Pemkot agar sedikit terkurangi. Dengan demikian dari segi bisnis radio ini memiliki nilai jual yang cukup tinggi, karena promosi ke luar daerah juga semakin gencar.

“Evek penambahan nama jauh lebih marketable, gaungnya semakin jauh lebih luas sehingga masyarakat Salatiga lebih akrab. Kemudian semakin lama SS juga berjejaring dengan 32 RSPD se-Jawa Tengah di bawah RRI. Selain itu pula SS berjejaring dengan radio Neidherland Belanda dimana komunitasnya di Indonesia ada 98 radio” terang Boaz.

Karena persaingan dunia radio sangat tinggi memacu semangat pengelola untuk lebih agresif. Dengan terjalinnya kolegalitas-kolegalitas tersebut SS mampu menghidupi para pekerjanya serta memberikan setoran pendapatan asli daerah (PAD) Kota Salatiga.

“Menyiasati tingkat kompetisi yang sangat tinggi tersebut, selain menjalin hubungan dengan berbagai stasiun radio di atas, SS juga giat menjalin hubungan dengan berbagai pihak dan komunitas. Kami mengiformasikan kegiatan dan produk mereka, dengan demikian mereka juga sebaliknya menginformasikan keberadaan dan eksistensi SS kepada pihak-pihak lain yang menghasilkan kerja sama baru” tambah Boaz.

Kerjasama SS juga terjalin akrab dengan berbagai media cetak, dengan begitu eksistensi SS di tengah masyarakat semakin diakui dan jangkauan pendengan semakin luas. “Manfaat dari berbagai kerjasama menimbulkan coverage atau jangkauan siaran meluas, sehingga informasi yang kita berikan kepada masyarakat bisa dirasakan. SS tidak hanya di dengar di Salatiga namun sampai juga di telinga para pendengar luar daerah yang jauh seperti Kota Demak dan Puwodadi. Dengan demikian efektifitas kerjasama dengan SS tercipta, dari segi biaya kami juga sangat evisien (lebih murah dibandingkan denga media lain seperti media cetak dan televisi)” ungkap Boaz.

Di tahun 2007 ini titik berat SS dalam program siaran adalah mencakup beberapa sektor yaitu: bidang pendidikan, kebudayaan, olah raga, pengembangan pemuda dan remaja, peningkatan kesejahteraan Usaha Kecil Mandiri (UKM) dan pemerinthan.

Pertama,pada sektor pendidikan SS FM sangat intensif menanamkan dan mengajak meningkatkan minat baca masyarakat Salatiga pada khususnya serta masyarakat luas pada umumnya. SS FM dalam setiap pergantian jam siaran selalu ada himbauan untuk membaca yaitu “Dengan membaca kita jadi tahu banyak, dengan membaca kita tahu banyak, karena membaca adalah jendela informasi dunia”. Ajakan tersebut sangat akrab di kalangan pendengar SS FM.

Hal tersebut terus dilakukan dengan maksud untuk memotifasi masyarakat agar terus membaca dan terus menambah ilmu, membekali diri dengan membaca. Program riil yang disiarkan misalnya Warti (warta terkini). Ada beberapa bagian dalam siaran dengan mendatangkan narasumber yang benar-benar mumpuni untuk memberikan motivasi kepada masyarakat agar gemar membaca. Program ini diadakan khusunya pada Jum’at pagi pukul 07.00-08.00 WIB.

Selain itu SS FM juga menyajikan informasi-informasi terkini yang dirangkum dari media cetak seperti Koran dan majalah dan juga internet, mengenai kejadian-kejadian baru yang ada di Salatiga, Indonesia bahkan Dunia.

Kedua, bidang kebudayaan, SS FM turut serta dalam melestarikan kebudayaan local Salatiga. Wujud dari program ini adalah dengan mengajak masyarakat khususnya pemuda untuk berperan lagi dalam melestarikan budaya karena kebanyakan budaya local juga merupakan aset wisata di Salatiga.

SS FM dalam hal ini menggelar berbagai event diaataranya: mengadakan lomba Tari Jawa, parade Kerocong dan pagelaran wayang kulit. SS FM dalam waktu dekat ini juga sedang mengagas parade Wayang Bocah (dalang cilik) dan Cokekan (permainan seperangkat gamelan sederhana yang digunakan untuk mengisi acara manten.

Dalam siarannya SS FM juga enyajikan siaran langsung keroncong, Cokekan, wayang kulit. Selain sebagai refresing masyarakat juga untuk mengingatkan kembali bahwa budaya local jangan sampai hilang sehingga diakui oleh bangsa lain.

Ketiga, di bidang olah raga, SS FM menyahuti ajakan Walikota Salatiga untuk menjadikan Salatiga sebagai Kota Olah raga. Pihak SS FM turut serta dalam berbagai cabang olah raga seperti Catur, Studio SS FM sebgai home base atau untuk latihan dan try out bagi para pecatur. “Hasilnya sangat mengagumkan, setelah satu tahun diadakan home base para pecatur yunior Salatiga mulai berbicara di tingkal regional bahkan nasional. Seperti belum lama ini memboyong medali emas, perak dan perunggu dari kejuaraan yang diadakan di Purbalingga. Di tingkat nasional Salatiga juga masuk dalam 10 besar” terang Boaz.

Keempat, bidang pengembangan pemuda, SS FM menggelar bermacam kegiatan yang memengakomodasi talenta mereka. Ajang yang digelar berupa lomba nyanyi, lomba dance, lomba band pelajar, dan lomba ketangkasan bersepeda motor (free style). Hal tersebut dimaksudkan untuk menggali peotensi mereka serta menjauhkan mereka dari kegiatan negative, seperti pemakaian obat terlarang dan pergaulan bebas.

Kelima,bidang UKM, pihak SS FM menjalin kerjasama dengan UKM dan Koperasai untuk memberikan binaan terhadap UKM di Kecamatan. “Kami juga mengadakan pasar rakyat, expo dan aktif mempromosikan produk UKM Salatiga ke daerah luar” papar Boaz.

Keenam,bidang pemerintahan, “SS FM selalu memberikan ruang seluas-luasnya kepada Pemkot Salatiga untuk menginformasikan semua rencana dan kegiatan pembangunan yang terlaksana. Kami selalu siap untuk memancarkan langsung siding paripurna dewan, dialog interaktif dan siaran langsung peringatan hari besar agama” tambah laki-laki ber-style nyentrik ini.

“Sedang di tahun depan kami akan tetap memprioritaskan program ungulan tersebut, mengingat program tersebut telah lekat di masyarakat dan haasilnya memuaskan. Dalam prosentase acara terbagi menjadi: hiburan 50%, pendidikan 20%, berita dan informasi 20%, lain-lain 10%” tutup Boaz.

19 Desember 2007

Bukan Negeri Bencana


Hingga menjelang ujung tahun 2007, masih saja ada musibah yang menimpa Tanah Air. Seolah, bencana memang tak ingin jauh dari Republik ini. Masyarakat kita pun menjadi sangat akrab dengan berbagai berita tentang tanah longsor, banjir, kecelakaan alat transportasi, kebakaran hutan, dan musibah lainnya. Mungkin, tak berlebihan, jika akhirnya, masyarakat kita menganggap setiap bencana sebagai peristiwa biasa.

Meskipun demikian, amatlah berlebihan jika ada yang sanggup menyebut Indonesia sebagai negeri bencana, tanah bencana, atau republik bencana. Pasalnya, di tengah kesedihan hebat yang melanda bangsa besar ini, masih ada secercah kebahagiaan, yang diusung Trianingsih dkk., dari ajang Sea Games 2007 di Thailand. Meskipun bukan juara umum, posisi Indonesia di peringkat empat setelah Thailand, Malaysia, dan Vietnam itu sudah cukup menghibur karena sesuai target. Terlebih, bagi warga Kota Salatiga. Pasalnya, putera daerahnya turut menyumbang emas dalam ajang bergengsi itu. Mereka adalah Trianingsih dan Dwi Ratnawati.

Keberhasilan ini membuktikan bahwa tak hanya warga kota besar yang mampu berprestasi, warga kota kecil pun bisa. Sukses ini juga menjadi bukti bahwa negeri ini tak pantas disebut sebagai negeri bencana.

Redaksi

06 Desember 2007

Sinterklas Bagi Bingkisan di RSUD


Dua puluh lima muda-mudi Gereja Mawar Saron (bekas Gedung Madya) mengadakan kunjungan malam hari ke BP RSUD Salatiga pada 5 Desember 2007. Dalam acara itu, mereka membagikan snack dan minuman bagi petugas jaga dan penunggu pasien. Acara ini merupakan bentuk kepedulian amal kasih terhadap sesama dalam rangka memperingati Hari Natal Tahun 2007.

Mengawali kunjungan tersebut, para pemuda disambut oleh Humas BP.RSUD, Zaenal S.Ag. Mereka mendapat penjelasan seperlunya tentang keadaan ruangan rawat inap yang ada. Selanjutnya, rombongan berkunjung ke ruang bersalin untuk membagikan makanan ringan dan minuman. Acara pembagian bingkisan ini dilanjutkan di depan ruang Melati, Cempaka, dan Mawar . Bingkisan dibagikan kepada keluarga pasien yang sedang berjaga.

Arifin, kordinator acara itu mengungkapkan, kegiatan ini merupakan spontanitas kaum muda-mudi yang sebagian besar mahasiswa. Untuk menambah semaraknya pembagian bingkisan, mereka mengenakan topi merah berbalut putih seperti sinterklas menambah.

Selain jemaat gereja yang berlokasi di Jalan Sukowati, Salatiga, itu, gereja-gereja di Salatiga pada umumnya juga melakukan amal kasih dalam rangka menyambut Hari Natal. Beberapa di antaranya mengadakan kunjungan ke panti asuhan, membagikan pakaian pantas pakai, dan membantu sesama yang membutuhkan bantuan dan pertolongan.( kst )

29 November 2007

Pameran dan Bursa Kerja KNPI Salatiga

------------


Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda tahun 2007,panitia peringatan dari unsur KNPI mengadakan pameran dan bursa kerja bertempat di gedung Korpri akhir bulan Oktober 2007

Peserta terdiri;SMKN 2 menampilkan ketrampilan siswa, perusahaan swasta membuka lapangan kerja baik di kabupaten Semarang dan Kota Salatiga, serta Kantor Disnaker melayani kartu kuning secara gratis.

Dalam pameran tersebut dijual berbagai tanaman hias, dan berbagai hiburan

Sehingga merupakan hiburan menarik. Kegiatan positif ini untuk tahun mendatang akan diselenggarakan pelaksanaan yang baik sehingga dapat memberikan peluang generasi muda yang belum mendapat pekerjaan.

. .

Walikota Salatiga Meresmikan SMK Negeri 3.


Walikota John M.Manopo,SH meresmikan pembangunan gedung SMK N 3 Kalibening dengan peletakan batu pertama yang diikuti dari DPRD, Dinas Propinsi Jateng, dan Kadiknas Salatiga.

Dra. Endang DW, MPd melaporkan, tujuan pembangunan sekolah untuk mewujudkan pemenuhan kebutuhan sarana daan prasarana pendidikan yang diperlukan bagi Unit Sekolah Baru SMKN 3 Salatiga. Sumber dana dan pelaksanaan dari Direktorat Pembinaan SMK Tahun 2007 sebesar Rp. 700 juta, dana pendamping APBD Salatiga tahun 2007 sebesar Rp. 250 juta, dan Dana Propinsi Jateng Rp.250 juta

SMKN 3 Salatiga saat ini baru memiliki 2 ruangan kelas dengan jumlah 67 siswa dengan jurusan wilding dan mekatronika. Setiap siswa baru dikenakan sumbangan untuk administrasi dan seragam Rp.600.000,- serta SPP Rp. 100.000,-Adanya pembangunan sekolah tersebut akan membuka 3 jurusan dengan jurusan holtikultural

28 November 2007

Wartawan Perancis Ceramah di STAIN Salatiga


Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga mengadakan ceramah dan dialog dinamika perempuan Islam di Perancis. Dialog tukar informasi tersebut berlangsung di Aula STAIN Salatiga pada 30 Oktober 2007.

Sedang pemateri didatangkan langsung dari perancis, Dora Mabrouk yang juga merupakan wartawan senior Majalah muslimah HAWWA. Hadir dalam acara seminar Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial dan Keluarga Berencana Kota Salatiga Drs. Susanto, serta beberapa anggota DPRD Kota Salatiga.

Dalam sambutannya ketua STAIN Salatiga Drs. Imam Soetomo, Mag menucapkan terimakasih kepada semua hadirin, serta pemateri beserta rombongan.

Para peserta berasal dari sebagian besar mahasiswa, karyawan dan dosen STAIN, wartawan serta tamu undangan dari berbagai komunitas di Salatiga. Para hadirin dibuat diam karena materi disampaikan dengan Bahasa Perancis, sehingga peserta harus menunggu terjemahan yang disampaikan oleh pejabat kedutaan Perancis untuk Indonesia, Bapak Dominique.

Dalam paparannya Dora mnyampaikan sejarah masuknya Islam di Perancis, perubahan Undang-undang tahun 2004 yang melarang pemakaian atribut keagamaan serta usaha pengkomunikasian berbagai umat beragama di sekolah negeri. “Saat ini jumlah penduduk Perancis berjumlah 60 Juta jiwa, ada 40 juta beragama Katolik, 5 juta beragama Islam, 1 juta Protestan, 650 ribu Budha, 500 ribu Yahudi serta ateis” papar Dora dengan bahasa Perancis.

“Dahulu pertama kali masuk, Islam dibawa oleh imigran Afrika, pada saat penjajahan Perancis di negeri tersebut. Kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai pekerja. Kemudian dari anak-anak mereka didapati generasi yang mau berbaur dengan masyarakat dan bersekolah” tambah Dora yang telah diterjemahkan Dominique.

Acara dimeriahkan pula dengan hiburan tarian tradisional Saman Aceh oleh Miracle Community Solo, mereka merupakan mahasiswa UPPI-ISI Solo.(lux)

Jelang lebaran pemkot Salatiga bagikan bingkisan

Menjelang hari raya Iedul Fitri 1428 H, Pemerintah Kota (Pemkot) Salatiga membagikan bingkisan lebaran. Acara simbolis dilaksanakan pada tanggal 9 Oktober 2007 di Pendopo Pemkot Salatiga.

Hadir dalam acara tersebut Walikota Salatiga sekaligus menyampaikan bingkisan secara simbolis dan memberikan sambutan. Sedangkan penerima bingkisan adalah: sais dokar sebanyak 100 orang, Tukang Becak 250 orang, Tukang Sapu Jalan 166 orang, Petugas Kebersihan/Keamanan Pasar 103 orang dan Tenaga Penjaga Makam Pahlawan 2 orang.

Dalam kegiatan sosial tersebut juga disampaikan uang saku lebaran kepada anak yatim piatu di Kota Salatiga. Untuk saat ini yang terpilih adalah Panti Asuhan Islahul Muna 20 anak, Panti Asuhan yatama 35 anak dan Panti Asuhan Ulya 30 anak.

“Maksud dan tujuan kegiatan ini adalah untuk meringankan beban dan membagi rasa kebahagian dalam merayakan hari Raya Idul Fitri 1428 H” sambut Drs. H. Adi Isnanto.

Sedangkan dasar dari pemberian bingkisan lebaran ini adalah Perda Kota Salatiga No. 1 Tahun 2007 tentang Anggaran pendapatan Belanja Daerah Kota Salatiga tahun Anggaran 2007 dan Peraturan Walikota Salatiga No. 3 Tahun 2007 tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Salatiga Tahun Anggaran 2007.(lux)

Disparta cari mas dan mbak salatiga 2007


Dinas Pariwisata dan Olah Raga (Disparta) Kota Salatiga mengadakan seleksi mas dan mbak Kota Salatiga untuk tahun 2007. Lomba rutintahunan tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 6-9 November 2007.

Mas dan mbak yang terpilih nantinya akan menjadi Duta Wisata Kota Salatiga hingga tahun 2008. “Tugas mereka adalah mewakili Kota Salatiga dalam berbagai even seni budaya yang dilaksanakan di pusat, provinsi serta menghadiri undangan dari daerah lain dalam acara yang serupa” jelas Kepala Dinas Pariwisata dan Olah Raga, Dra. Diyah P. MM.

Dalam ajang tersebut akan diperebutkan beberapa kategori, yaitu: kategori Juara Umum I Putra-putri (Pa-Pi),II Pa-Pi dan III Pa-Pi, kategori Juara intelegensia Pa-Pi, kategori Juara Kepribadian Pa-Pi dan kategori Juara Kepariwisataan Pa-Pi.

Syarat untuk mengikuti ajang ini adalah; WNI, usia 17-25 dan belum menikah, berdomisili di Salatiga, berbadan dan berjiwa sehat, tinggi badan minimal untuk Pa 175 cmdan Pi 160 cm, mendapatkan ijin orang tua, membayar uang pendaftaran Rp. 50.000,- dan berpenampilan menarik. Yang berminat dapat mendaftarkan diri di Kantor Disparta Jl. LMU Adi Sucipto No. 7 Salatiga.

“Sebelum acara pemilihan nantinya akan ada pembekalan bagi para peserta. Materi yang disajikan diantaranya: psikotes, kunjugan wisata ke tempat wisata Salib Putih dan Plumpungan serta kunjungan ke perusahaan” tambah Diyah.

”Nantinya juara umum Pa-Pi akan diikutsertakan ke ajang serupa di tingkat Provinsi Jawa Tengah. Untuk tahun ini duta wisata kita mendapatkan juara II Putri” akhir Diyah.(lux)

250 CPNS Salatiga Tenaga Kontrak Bernafas Lega

Sebanyak 250 calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang berasal dari tenaga kontrak tahun 2006 menerima Surat Keputusan SK. Acara berlangsung di Ruang Sidang II Pemkot Salatiga pada tanggal 26 Oktober 07, diserahkan secara simbolis oleh John M Manoppo, SH Walikota Salatiga.

Dari 250 CPNS tersebut masih ada dua orang yanag tertahan pemberkasannya, karena masih diteliti lebih lanjut oleh Badan Kepegawaian Nasional BKN. Walikota Salatiga berpesan, pengangkatan CPNS dari tenaga kontrak yang memenuhi syarat diharapkan untuk dapat meningkatkan kinerjanya dan pengabdiannya sebagai abdi negara.

Walikota juga mengingatkan agar pegawai kontrak setelah menjadi CPNS, semangat rekan-rekan semua tidak jadi nglokro (lembek). Pengangkatan ini seharusnya disikapi sebagai anugrah yang perlu untuk disyukuri dengan wujud peningkatan kinerja.

Adapun 250 CPNS tersebut terdiri dari 83 orang tenaga guru, 4 orang tenaga kesehatan dan 41 tenaga administrasi. “Pemberkasan CPNS dari tenaga kontrak tersebut telah dilakukan sejak tanggal 25 Juni hingga 25 Juli tahun ini di BKN Yogyakarta” terang Daryadi, SH Kepala Badan Kepegawaian Daerah BKD Kota Salatiga.

“Jangan sampai setelah diangkat, semangat pegawai menjadi lemah. Sebab saya mendapatkan informasi bahwa di salah satu SKPD ada pegawai yang setelah menjadi CPNS malas bekerja, ini terjadi pada formasi tahun 2005. Kami sudah memanggil dan mengingatkan yang bersangkutan, jika nantinya tidak ada perubahan maka kami tidak segan-segan untuk mencabut SKnya, kemudian dia akan kembali menjadi tenaga kontrak” nasihat Daryadi.lux

SAN Salatiga Himbau Jauhi Narkoba

Dalam rangka menyambut Hari Olah Raga Nasional ke 24, Satgas Anti Narkoba (SAN) Kota Salatiga menggelar jalan sehat. Acara berlangsung pada tanggal 9 September 2007. Adapun rute jalan sehat mulai dari Lapangan Pancasila kemudian mengililingi pasar dan kembali lagi ke tempt start.

Jalan sehat tersebut berlangsung sangat meriah. Panitia juga memberikan door prize 1 unit sepeda motor, 2 kulkas, 2 tv, 2 sepeda gunung, 2 dvd, 5 setrika, 2 mini kompo dan 5 kipas angin serta hadiah hiburan. Sebagai hiburan disajikan pula solo organ dan band.

Sebagai pengibar bendera start, H. Bambang Sutopo selaku tokoh SAN. Dalam sambutnnya Pak Topo, sapaan akrab beliau, mengucapkan terimakasih kepada warga masyarakat yang turut dalam acara jalan sehat tersebut. “Ternyata masih banyak anak muda ganteng-ganteng di Kota Salatiga ini yang peduli dan anti terhadap narkoba. Jalan santai kali ini adalah untuk memperkenalkan SAN (satgas anti narkoba) kepada masyarakat Kota Salatiga. Dengan perkenalan ini semoga kita semakin sadar dan menjaga keluarga kita jauh dari narkoba” terang Pak Topo.

“Di Kota Salatiga sudah ada pesantren rehabilitasi pengguna narkoba yang di kelola Kyai Natsir. Lokasinya berada di dusun Cengek, Tingkir Lor. Saya ucapkan selamat berjalan sehat, semoga dapat memborong door prize nantinya. Namun yang terpenting bukanlah door prize tersebut, tetapi yang utama adalah jauhnya keluarga kita dari narkoba” tambah Pak Topo.(lux)

Nadzar Salatiga Nanggap Wayang

Sebagai wujud syukur terhadap Tuhan, Kantor Pelayanan Pajak Kota Salatiga menggelar kesenian wayang. Ini dilakukan dalam rangka melaksanakan nadzar pegawai lama atas dibangunnya gedung baru yang telah selesai diresmikan. Acara syukur sekaligus hiburan bagi masyarakat tersebut berlangsung di halaman Kantor Pajak Kota Salatiga pada tanggal 26 Oktober 2007.

Tampil sebagai dalang Ki Mulyono P. mWijoyo SE, MSi yang juga merupakan pegawai di kantor pajak. Lakon yang ditampilkan adalah “Petruk Dukun”. Acara berlangsung cukup meriah karena sekaligus dirangkai dengan Halal bi Halal.

Hadir dalam acara tersebut: Kepala Kantor Wilayah Pajak Semarang , Walikota Salatiga Joh M Manoppo, SH. serta muspida Kota Salatiga. Dalam sambutannya Sulistiyono, SH ketua panita memaparkan tujuan diadakannya acara yaitu: sebagai wujud syukur atas terselesaikannya pembangunan gedung baru, sebagai wujud syukur karen pada tanggal 6 November 2007 ini kantor pajak Salatiga resmi menjadi kantor pajak modern. “Dengan begitu kantor pajak Kota Salatiga menjadi kantor pajak pratama” tambah Sulistiyono.

“Saya ucapkan selamat kepada segenap jajaran Kantor Pajak Salatiga atas diresmikannya gedung baru dan meningkatnya status menjai kantor pajak pratama. Semoga dapat meningkat lagi menjadi madya” ucap Walikota dalam sambutannya.

“Dengan dibangunnya gedung baru dan pemberlakuan pelayanan pajak yang modern, nantinya masyarakat akan merasa lebih nyaman dan puas dalam pelayanan. Serta kesadaran masyarakat akan kewajiban membayan pajak meningkat” tambah Sulistiyono.(lux)

Kelurahan Mangunsari Salatiga Sosialisasikan FKPM

Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) yang dibentuk di tiap kelurahan disosialisasikan. Kali ini Kelurahan Mangunsari mendapat giliran untuk memberikan pengertian kepada tokoh masyarakat dan aparat kelurahan. Acara berlangsung pada tanggal 27 Oktober 2007 di Hotel Ngawen Salatiga.

Suasana sosialisasi berlangsung lancar dan akrab karena dirangkai dengan halal bihalal. Peserta sosialisasi berjumlah 200an orang, terdiri dari: LPMK, LKM, FKPM, Ketua RW, Tim penggerak PKK Kelurahan, Kader Kesehatan Kelurahan, Muspika, KUA, Karang TAruna, Ketua PKK RW, PSM dan tokoh masyarakat. Nampak dalam acara tersebut: M. Faturrahman, Tedy Sulistyo yang merupakan anggota DPRD dari wilayah Kelurahan Mangunsari.

Sedang pemateri dalam sosialisasi tersebut adalah: Kabag Binamitra Polres Salatiga Kompol Agus, I Made Samyana dari LSM Percik dan Kepala Camat Sidomukti Nunuk Dartini.

“Dengan dibentuknya Forum Kemitraan antara masyarakat dan kepolisian semacam ini akan sangat membatu masyarakat. Karena berbagai permasalahan tindak pidana ringan yang terjadi di tengah masyarakat dapat diselesaikan di dalam FKPM ini. Jadi jika masalah dapat diselesaikan ditingkat kelurahan tidak perlu sampai ke Polsek ataupun Polres” papar Siti Sulami Lurah Mangunsari.

Acara tersebut juga diisi dengan Hikmah Ramadhan yang disampaikan oleh Abdul Rahman dari Tegalsari Salatiga yang merupakan kader PSM berprestasi tingkat Jawa Tengah dari Kelurahan Mangunsari. Sebagai hiburan ditampilkan kesenian keroncong oleh group Dalas (dadi laras) dari mangunsari dengan dewan pembina ibu Lurah.(lux)

Lokal SMP N 4 Salatiga Disatukan

Sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan, local sekolahan SMP N 4 yang berbeda tempat akan disatukan. Selama ini local sekolah berada di Jl. Veteran dan di Jl. Dr. Sumardi. Tekad tersebut disampaikan pihak sekolah kepada pihak pemerintah kota pada acara halal bihalal. Acara berlangsung pada tanggal 22 Oktober 2007 di komplek SMPN 4 Jl. Dr. Sumardi Salatiga.

Hadir dalam forum silaturrahmi tersebut: Walikota Salatiga John M. Manoppo, SH, Ketua DPRD Salatiga Sutrisno Supriantoro, SE beserta jajarannya, perwakilan Kepala Dinas Pendidikan, Kepala BAPEDA Drs. Cholis Asad, Kepala Bagian PKD Drs. Fakrurroji, Kepala Camat Sidorejo, pihak penghibah tanah Bambang Murwanto, SH, segenap mantan kepala sekolah, guru dan karyawan SMP N 4 serta para murid.

“Kita berusaha bersama-sama, semoga berhasil untuk mencapai slogan sekolah” dukung Walikota dalam sambutannya.

Acara penghibahan tanah juga disampaikan Dr. Bambang Murwanto kepada Drs. H. Munadzir selaku kepala sekolah dengan disaksikan semua hadirin. “Lha wong mereka (pihak sekolah) dating dengan sopan dan memohon dengan baik maka saya secara senang hati menghibahkan. Tanah ini jika digunakan untuk tempat ibadah ataupun untuk mendukung dunia pendidikan akan saya berikan” sambut Bambang.

Sebelum acara halal bihalal, Minggu malam semua karyawan dan guru diajak bersama-sama melaksanakan shalat tahajud untuk kelancaran acara tersebut.(lux)

Halal Bihalal Guru TK-SD Se-Salatiga

Dalam suasana lebaran Idul Fitri 1428 H, ratusan guru dan karyawan mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK) sampai Sekolah Dasar (SD) mengadakan halal bihalal. Forum saling maaf memaafkan tersebut digelar pada tanggal 25 Oktober 2007 di gedung Pertemuan Daerah (GPD) Kota Salatiga.

Hadir dalam acara tersebut Kepala Dinas Pendidikan Dra. H. Endang DW, MPd, Asisten II Priyono Soedharto, SH serta tokoh pendidikan di Kota Salatiga. Selain saling memafkan, para hadirin juga diberi siraman rohani yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Syukur MA.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Pendidikan mengingatkan tentang tiga kewajiban dan tanggung jawab seorang pendidik. “Ada tiga elemen yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak yaitu: bagaimana menjadikan anak didik cerdas dan pandai, bagaimana menjadikan anak didik yang berbudi pekerti dan bagaimana menjadikan anak sehat jasmani dan rohani” ungkap bu Endang.

“Saya juga menghimbau kepada semua sekolah yang ada di Kota Salatiga untuk menduduk suksesnya acara Hari Sumpah Pemuda ke-79. Hal itu sangat penting mengingat Salatiga merupakan kota pilihan provinsi yang dijadikan sebagai pusat seremonial Hari Sumpah Pemuda tersebut” tambah Endang.

Sedang dalam ceramahnya, Prof Syukur mengajak segenap guru untuk menyelesaikan semua permasalahan dan problem antar sesama, menguraikan benang yang kusut serta menjalankan tugas dan kewajiban pendidik dengan sebaik-baiknya.(lux)

KPI Wadah Baru Perempuan

Perempuan Salatiga kini memiliki wadah baru dengan nama Kolisi Perempuan Indonesia (KPI). Demikian Konverensi Cabang pertama digelar di adakan di Ruang Sidang II pemerintah Kota Salatiga pada tanggal 8 September 2007.

Acara dikemas dengan seminar organisasi dan peran perempuan Indonesia, dengan mengangkat tema “Perempuan Salatiga Berkoalisi Untuk Keadailan dan Demokrasi”. Sedangkan nara sumber dari diskusi panel tersebut adalah : Mila Karmila, Sekretaris KPI Jawa Tengah, Drs. Amin Singgih dari unsur Pemerintah Kota Salatiga serta Elisabet Dwi Kurniasih anggota Dwan Kota Salatiga.

Hadir dalam acara tersebut Ketua PKK Kota Salatiga, Rosa Darwanti, SH dan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Trnsmigrasi, Drs. Min Singgih.Dalam sambutannya Dra. Putnawati, M.Si, ketua panitia memohon doa restu kepada semua tamu undangan dan pemkot agar KPI Salatiga segera terbentuk. “Demikian pula saya berharap akan bantuan demi keberlangsungannya” tambah Puput, panggilan akrabnya.

“Saya berharap KPI Salatiga menitik beratkan pada sektor program edukasi dan pediddikan politik kaum perempuan. Saya selaku ketua PKK Kota Salatiga akan memberdayakan PKK agar tidak tergantung pada bantuan Pemkot semata” himbau Rosa, Ketua PKK Salatiga.

Drs. Amin Singgih memberikan paparan bahwa Dinas yang dikepalainya juga telah membentuk PPT (Pusat Pelayanan Terpadu). Organisasi ini bekerja dalam bidang pendampingan terhadap perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. “Kami juga menyediakan dana untuk mereka yang harus berobat ke Rumah Sakit. pada tahun ini kami menyediakan dana untuk lima kasus, jika lebih dari lima ya ngutang dulu” papar Amin Singgih.

Sampai akhir Konverensi pertama KPI ini terpilih sebagai Sekretaris KPI Cabang Salatiga, Dra. Putnawati, M.Si, yang juga sebagai ketua panitia acara tersebut.(lux)

Sambut Ramadhan Ceria


Dalam rangka datangnya bulan suci Ramadhan (puasa), Sekolah Taman Kanak-kanak Islam 23 Al-Azhar Kota Salatiga menyambut dengan acara Menyambut Ramadhan Ceria Bersama Keluarga. Penyambutan tersebut berlangsung di lokasi sekolahan pada tanggal 8 September 2007 mulai jam 07.00- 13.30 WIB.

Kegiatan yang digelar adalah: donor darah, bazar, lomba masak, lomba memasukkan air ke dalam botol, puzzle dan merangkai huruf hijaiyah. Seluruh siswa TK Isalam yang berjumlah 101 mengikuti acara ini dengan semangat. Sedangkan perlombaan dan kegiatan ini diistilahkan dengan lomba keluarga, karena pelaksanaannya bersama keluarga. Donor darah pesertanya orang tua, kakak, siswa SMP Islam 13 Al-Azhar dan keluarga para siswa. Lomba memasukkan air kedalam botol dilaksanakan siswa bersama orang tua mereka.

Acara berlangsung cukup meriah dan banyak disambut tawa yang disebabkan pertunjukan orang tua dan anak mereka yang bersama-sama berlomba. “Momen ini kami selenggarakan tiap tahun guna mendekatkan keluarga siswa dengan pihak sekolahan. Dengan kegiatan ini kami juga bertujuan agar orang tua mengetahui kegiatan sekolah. Di sisi lain agar orang tua mengetahui perkembangan anak-anak setelah sekian lama belajar di sini” tutur Ibu Yanti selaku ketua Panitia yang didampingi Ibu Tutik Kepala Sekolah.

“Saya mengira donor darah pesertanya sedikit, namun diluar dugaan panitia pesertanya cukup banyak sampai saat ini (pukul 09.30) sudah 22 orang yang mendonor darahnya. Dengan kegiatan menyambut Ramdhan ceria bersama keluarga ini kami mengkondisikan agar siswa senang. Dalam acara ini kami juga menyampaikan pesan-pesan edukatif dalam rangka menghadapi bulan Ramadhan” tambah Ibu Yanti.(lux)

Pemilu SMP ISLAM Al-Azhar

Untuk mengisi kekosongan Ketua Osis periode 2007-2008 beserta wakilnya, siswa SMP Islam 13 Al-Azhar menggelar pemilu. Hajatan demokrasi tersebut dilaksanakan di Lokasi Sekolah pada tanggal 7 September 2007.

Uniknya dari proses pemilihan Ketua Osis (Pilkasis) dan pilihan wakil ketua osis (pilwakasis) dilakukan sama persis dengan proses pemilihan umum yang berlangsung di masyarakat. Dalam susunan panitia sama, ada Ketua Komisi pemilihan Umum (KPU), Ketua Panitia Pemungutan Suara (KPPS) dan keamanan.

Dalam posesi juga sama, ada pendataan pemilih, pemberian surat suara, pencalonan pasangan, seleksi pasangan, pengundian pasangan, penyampaian visi-misi bahkan kampanye. Saat hari pelaksanaan, pemilihan juga tidak berbeda dengan pemilu sungguhan. Pemilih harus menunjukkan kartu pemilih, baru kemudian diberi surat suara dan boleh masuk ke kotak suara untuk mencoblos. Setelah memasukkan surat suara pemilih juga diwajibkan mencelupkan jari kelingking kiri ke dalam tinta.

Jumlah pemilih dalam Pilkasis tersebut sebanyak 106 siswa dan 20 karyawan serta tenaga pengajar. “Tujuan dari proses Pilkasis ini adalah untuk pendalaman materi PPKN, serta belajar berdemokrasi yang benar sehingga diharapkan nantinya pada tingkat SMA mereka dapat menngunakan hak suara dalam pemilu dengan benar” terang Isro’i guru PPKN yang didampingi Joko Susilo, S.Pd. kepala SMP Islam 13 Al-Azhar Kota Salatiga.

“Yang menjadi calon dalam pilkasis ini adalah perwakilan dari siswa kelas 7 dan 8. sedangkan kelas 9 tidak diperbolehkan disebabkan mereka harus disiapkan untuk menghadapi ujian. Dari kegiatan ini sebenarnya mereka juga telah mendalami mata pelajaran Bahasa Indonesia, yaitu materi pembuatan leaflet dan poster” tambah Joko.(lux)

24 November 2007

Calon Perseorangan Dalam Pilkada


Oleh : Umbu Rauta

Setelah melalui proses panjang dan melelahkan, akhirnya gagasan mengikutkan calon perseorangan dalam arena pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah (Pilkada) jadi kenyatan. Tampak dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No : 5/PUU - V/2007 yang menyatakan tidak berlakunya Pasal 56 ayat (2) dan Pasal 59 ayat (1) - (3) sepanjang mengenai beberapa frase tertentu dari UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Putusan MK setidaknya merupakan penegasan dan penguatan kembali terhadap keinginan rakyat akan kehadiran calon perseorangan dalam Pilkada. Hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) di akhir Juli 2007, menunjukan bahwa di atas 70 % rakyat setuju calon perseorangan, baik untuk Bupati/Walikota, Gubernur dan Presiden (Koran Tempo 25 Juli 2007).

Sejauh yang diamati, ada beberapa alasan menghadirkan calon perseorangan dalam arena Pilkada. Pertama, ketika Partai Politik atau Gabungan Partai Politik Peserta Pemilu (Parpol) diberi monopoli kewenangan sebagai pintu masuk bakal calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (KDH/WKDH), kinerjanya kurang memuaskan masyarakat. Tidak saja karena proses penjaringan yang cenderung elitis/kurang aspiratif, tetapi juga adanya politik uang (money politic) dalam berbagai modus. Telah menjadi rahasia umum, dalam beberapa daerah yang telah dan sedang menjalani proses Pilkada, tidak terhindarkan dari adanya “kewajiban” bagi bakal calon untuk menyiapkan sejumlah dana, baik untuk biaya Pilkada maupun ”tarif sewa Parpol”.

Kedua, dorongan adanya perlakuan yang sama dengan wilayah Aceh, yang dalam regulasi Pilkada, baik untuk Propinsi dan Kabupaten/Kota memperkenankan keikutsertaan calon perseorangan dalam arena Pilkada. Ketiga, kinerja KDH/WKDH terpilih yang kurang baik, tampak dari keterlibatan dalam persoalan hukum, seperti korupsi. Perhatikan beberapa KDH/WKDH, seperti Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal, Kabupaten Kutai Kartanegara, dll. Ini disebabkan karena seleksi yang kurang ketat terhadap rekam jejak calon saat menjalani proses Pilkada.

Implikasi Putusan MK

Bagaimana implikasi putusan MK terhadap Pilkada yang sedang dan akan berlangsung. Setidaknya ada beberapa alternatif regulasi yang dapat ditempuh dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pertama, Presiden menerbitkan PERPU (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang), dengan pertimbangan kemendesakan regulasi untuk aktivitas Pilkada yang belum memiliki aturan pasca putusan MK. Oleh karena PERPU bersifat subyektif, bisa jadi kalangan DPR tidak akan menyetujuinya saat diajukan oleh Presiden untuk dimintai persetujuan. Hal ini tampak dari pernyataan pimpinan fraksi dan pimpinan DPR saat rapat konsultasi pimpinan DPR, yang lebih menginginkan perubahan terbatas terhadap UU No. 32/2004.

Kedua, perubahan terbatas terhadap UU No. 32/2004. Ini relatif obyektif, tetapi membutuhkan waktu yang lama, seperti dinyatakan Menhukham Andi Mattalata, yaitu sampai akhir tahun 2007. Tidak dapat terhindarkan adanya pertarungan berbagai macam kepentingan politik saat pembahasan substansi perubahan. Hal ini tampak dari perdebatan yang sedang terjadi di Badan Legislasi DPR. Ketiga, regulasi dari KPU. Meski mempunyai kewenangan menciptakan regulasi, namun materi yang dipercakapkan adalah materi muatan UU

Dari beberapa alternatif di atas, maka alternatif penerbitan PERPU perlu diambil sepanjang Presiden benar-benar cermat dan responsif dengan aspirasi yang berkembang. Keinginan DPR untuk memilih perubahan terbatas dan pernyataan Pemerintah untuk tetap memberlakukan UU N0 32/2004 menunjukan adanya sikap kurang iklas dengan putusan MK, sehingga dengan berbagai dalih diupayakan agar perwujudan calon perseorangan dalam arena Pilkada diperlambat sambil mempersiapkan perbaikan kinerja dari Parpol dan anggotanya. Proses legislasi di DPR cukup menyita waktu, apalagi jika belum dijadikan agenda prioritas oleh Badan Legislasi dan Badan Musyawarah. Sehingga, perubahan terbatas itu bisa terjadi tahun 2007 atau 2008, padahal telah banyak tuntutan di berbagai daerah yang akan menyelenggarakan Pilkada, perihal tatanan bagi keikutsertaan calon perseorangan.

Materi Muatan

Ada beberapa materi muatan substantif untuk menjadi perhatian dalam perumusan ketentuan dengan calon perseorangan dalam arena Pilkada. Pertama, syarat minimum dukungan antara 3 % - 5 % dari jumlah pemilih. Usulan dari kalangan Pemeritah dan DPR, yang menentukan minimum 15 % menunjukan sikap perlakuan yang sama untuk keadaan yang tidak sama. Besarnya syarat dukungan bagi Parpol/Gabungan Parpol merupakan kewajaran karena adanya mesin politik berupa organisasi Parpol, sementara bagi calon perseorangan tidaklah demikian. Belakangan muncul pendapat di Badan Legislasi bahwa syarat dukungan antara 5 % - 10 %. Presentasi syarat dukungan tersebut akan dibuat dalam beberapa kategori, dimana daerah yang penduduknya padat akan dikenakan presentasi dukungan kecil, sementara yang kurang padat diperlakukan prosentasi semakin besar. Selain syarat dukungan, perlu perhatikan ketersebaran wilayah dari dukungan tersebut agar derajat legitimasinya cukup tinggi.

Kedua, hindari calon karbitan bekas parpol, seperti pengalaman saat pencalonan anggota DPD, dimana banyak anggota DPD yang sebelumnya bekas anggota Parpol atau bahkan masih mempunyai hubungan emosional yang kuat dengan Parpol. Perlu diatur batas waktu keluar dari Parpol, misalnya minimum telah setahun bukan sebagai anggota dan pengurus Parpol. Ketiga, kehati-hatian dalam penentuan bukti dukungan, apakah cukup tanda tangan atau dengan KTP dan perlu konfirmasi dengan aparat setempat, seperti RT,RW dan Kelurahan/Desa. Keempat, biaya atau dana politik yang perlu digalang dan dipunyai oleh calon perseorangan.

Penutup

Meskipun putusan MK hanya mempersoalkan pengisian jabatan di daerah, namun dalam jangka panjang merupakan pekerjaan rumah bagi kalangan anggota MPR, untuk sekiranya melihat kembali pengaturan pengisian jabatan Presiden dan Wakil Presdien pada tataran Konstitusi. Hal ini bukan sebuah agenda baru, tetapi agenda lama yang telah diusulkan Komisi Konstitusi beberapa waktu lalu, yang belum dipercakapkan kembali. Semoga .....

Dosen Hukum Tata Negara & Otonomi Daerah

Fakultas Hukum UKSW Salatiga

Selektifitas Naskah Majalah Hati Beriman


Pusat Dokumen dan Informasi Ilmiah PDII-LIPI sebagai pusat nasional untuk Indonesia yang bertugas memantau terbitan berkala dan dipublikasikan di Indonesia telah memberikan ISSN (International Standard of Serial Number) sebagai nomor pengenal yang diberikan kepada terbitan berkala.

Adapun yang dimaksud terbitan berkala disini adalah majalah, surat kabar, newsletter (warta), buku tahunan, laporan tahunan, maupun prosiding. ISSN diberikan oleh ISDS (International Serial Data System) yang berkedudukan di Paris, Perancis. ISDS mendelegasikan pemberian ISSN baik secara regional maupun nasional. Sedang Pusat regional untuk Asia berkedudukan di Thai National Library, Bangkok,Thailand. Adapun untuk Indonesia, yang mempunyai tugas mamantau terbitan berkala yang dipublikasikan dan memberikan sertifikat ISSN adalah PDII-LIPI Jakarta.

Mulai bulan September 2007 Edisi 4 Volume 1, Hati Beriman yang diterbitkan oleh Kantor Informasi dan Komunikasi Kota Salatiga berdasarkan Surat Keputusan Walikota Salatiga Nomor 9 Tahun 2004 telah mendapatkan kepercayaan dari PDII-LIPI Jakarta dan memperoleh nomor pengenal atau ISSN dengan nomor 1978-5798.

Untuk itu, tim Majalah hati Beriman dituntut untuk terus bekerja keras meningkatkan kualitas, baik isi, materi maupun tampilan majalah. Namun demikian kekurangan di sana-sini masih sering juga terjadi. Maka redaksi selalu mengharap adanya kritik dan saran dari pembaca melalui rubrik surat pembaca demi peningkatan mutu Majalah hasti Beriman.

Semoga dengan adanya sertifikat ISSN ini dapat meningkatkan kualitas para penulis dalam pengiriman naskahnya ke redaksi Majalah Hati Beriman. Pada akhirnya juga akan meningkat kualitas isi rubrik yang kami sediakan.

Namun demikian, dengan semakin banyaknya naskah tulisan yang masuk ke tim redakasi, maka redaksi lebih selektif dalam memilih naskah-naskah tulisan yang akan di muat di majalah Hati Beriman. Sehingga kami mohon maaf jika ada tulisan yang tidak dapat kami muat.

Redaksi

Soewoto Pensiunan PNS Salatiga Hobi Tanaman Hias


Dengan hobi rajin merawat tanaman hias sejak tahun 2005 membuahkan penghasilan lumayan bahkan menambah koleksi tanaman bervariasi yang menjadi trend boming saat ini.

Kesenangan memelihara tanaman hias ternyata memberikan kesibukkan setiap harinya dan menyenangkan serta enak memandang tanaman hias tersebut.

Awal mulanya kesibukkkan ini ketika Ny. Windri selaku isteri senang merawat tanaman untuk menghiasi kediaman rumah. Tanaman hias kami memelihara mengkususkan anthurium dan tanaman hias yang sedang populer banyak peminatnya. Seperti tanaman Anthurium Rafles yang beberapa tahun membeli di kota Bogor, saat ini sudah berdaun sebanyak 32 lembar, tinggi 2 meter, muncul 2 buah onthong dan perkiraan usia tanaman sudah 15 tahun.

Tanaman tersebut merupakan paling besar di rumah serta sudah ditawar pembeli seharga Rp. 55 juta. Mengingat kondisi tanaman Anthurium Rafles menyenangkan dengan terpaksa tawaran itu kami tolak, tutur Soewoto dengan senyum bangga me-nyaksikkan daun tanaman melambai-lambai tertiup angin terasa menyejukkan.

Tanaman di rumah kami sudah mencapai ratusan buah, sehingga tidak mustahil banyaknya tamu yang berkunjung ke rumah dengan berbagai kepentingan

Misalnya; menambah pengetahuan, membeli tanaman hias, mencari koleksi tanaman langka dan menarik. Jenis tanaman ukuran seperti: Gelombang Cinta, Hokkeri, Wayang Naga, Khal, Jemani Centhong, dan lain-lainnya. Sebagai pensiunan perhutani sewaktu di rumah merawat tanaman, mencari jenis tanaman yang menarik, dan melayani tamu-tamu dari provinsi Jatim, Jateng, Jabar, Jakarta. Mengenai harga tanaman anthurium semakin bomming karena banyaknya peminat ingin membeli, sedangkan pembibitan berkurang dikarenakan banyak kesulitan, justru yang demikian mempunyai keasyikkan tersendiri.

Persediaan tanaman hias ukuran kecil dari Rp. 75.000,- sampai Rp. 5 juta perkembangan penjualan tanaman hias sudah menjamur, dimana-mana terdapat penjualan tanaman hias yang kebanyakkan pemintanya kaum laki-laki karena dengan usaha ini cepat mendapatkan hasil lumayan sambil setiap Minggu selalu mengamati perkembangan harga tanaman hias di tabloid tanaman terbitan Surabaya. Usaha ini secara tidak langsung membutuhkan modal jutaan rupiah, khusus pembibitan sangat membutuhkan pengalaman.

Khusus ibu-ibu rumah tangga paling suka tanaman Aglonemia seharga Rp. 200.000,- sampai selebihnya, demikian tanaman daun Philo dari harga Rp. 200.000

Sampai dengan Rp.500.000,- Sesungguhnya jenis tanaman ini sangat membingung-kan artinya orang Salatiga mencari tanaman tersbut sampai Malang sedangkan orang Malang juga mencari di Salatiga sehingga terkesan membingungkan, untuk jenis anthorium jemani paling laku keras di Jakarta.

Usaha tanaman hias ini harus pandai-pandai membaca peluang, jika pandai dengan membeli tanaman seharga Rp. 4 juta dalam beberapa bulan di jual Rp. 7 juta cepat memperoleh penghasilan.

Pengalam suka dan duka usaha ini; bila mendapat untung besar dan memperoleh bibit tanaman dalam waktu cepat, kalau tidak demikian untuk perkembangan bisa tertinggal dengan lainnya. Patokan harga tanaman jangan terlalu tinggi yang penting sesuai usia tanaman tersebut. Dukanya jika tanaman sudah dirawat baik-baik, malamnya diambil orang. Demikian pula kalau terkena penyakit daun secara tidak langsung menurunkan harga tanaman itu sendiri. Untuk mengatasi hal-hal tidak diinginkan, kami sekeluarga selalu mengamati berkembangan tanaman itu setiap 4 hari sekali disiram air, memberi obat vitamin untuk tanaman batang , daun , bahkan kalau malam diadakan ronda dengan membuat tempat rumah-rumahan ukuran kecil di depan rumah Jl. Magersari 149 RT 5/RW 7 Tegalrejo.

Keberhasilan usaha merawat tanaman membutuhkan ketekunan, menjalin relasi sebaik-baiknya, sehingga usaha ini dapat berjalan lancar dan rasanya hati ini terasa senang dalam usia senja.(kst)

-----------------

Kantor Berwawasan Gender


Setiap kali berada di kantor, sadarkah kita bahwa kantor tempat kita mengais rejeki setiap hari belum berwawasan gender?

Diskriminasi di Kantor

Sudah sekian lama R.A. Kartini meninggal dan mewariskan gerakan emansipasi wanitanya. Namun, hingga saat ini, diskriminasi gender terhadap perempuan masih terus berlangsung. Tak ketinggalan, di lingkungan kantor.

Diskriminasi terhadap pekerja perempuan terus berlangsung dalam berbagai hal. Di antaranya, peluang karir, fasilitas kantor, dan peraturan kepegawaian.

Peluang Karir

Hingga saat ini, masih sangat banyak perusahaan atau kantor yang mengutamakan pegawai laki-laki daripada perempuan. Bahkan, jenis kelamin sering menjadi syarat utama bagi para pelamar kerja, yaitu jenis kelamin laki-laki. Jadi, baru pada level seleksi administrasi, perempuan sudah ditinggalkan. Padahal, jika perempuan itu mau dan mampu, apa salahnya?

Harus diakui, kemampuan dan kemauan perempuan dalam bekerja sebenarnya tidak kalah dari laki-laki. Kemampuan berpikir dan kemampuan fisik pun, perempuan berani bersaing dengan laki-laki. Salah satu buktinya adalah, ada perempuan yang menjadi tukang becak. Ada juga, perempuan yang mampu membesarkan perusahaan yang dipimpinnya. Bahkan, ada perempuan yang mampu menjadi kepala negara.

Selain itu, setelah menjadi pegawai di sebuah instansi pun perempuan masih kurang dihargai. Lebih-lebih, bila si perempuan itu sudah memiliki anak. Alasan yang dikemukakan begitu beragam, seperti: perempuan yang sudah memiliki anak dikhawatirkan tidak bisa bekerja secara maksimal karena harus memikirkan anaknya. Akibatnya, kesempatan meniti karir lebih banyak diberikan kepada laki-laki. Padahal, jika dipikir lebih jauh, banyak juga laki-laki yang lebih mengutamakan anak dan keluarganya daripada pekerjaan. Dengan kata lain, jenis kelamin tidak mampu menjadi tolok ukur etos kerja.

Yang lebih menyedihkan, ternyata tak hanya instansi swasta yang melakukan diskriminasi peluang karir terhadap perempuan. Di lingkungan instansi pemerintah pun praktek semacam ini masih ada. Padahal, hak dan kesempatan untuk berkarya adalah sama bagi semua warga negara tanpa kecuali. Bahkan, hak dan kesempatan untuk mencari penghidupan yang layak ini dilindungi sepenuhnya oleh negara.

Fasilitas Kantor

Sebuah kantor tentu memiliki berbagai fasilitas sebagai kelengkapan untuk mendukung kegiatan kantor. Sayangnya, masih banyak fasilitas kantor yang membuat perempuan tidak bisa merasa nyaman saat memanfaatkannya. Misalnya, meja kerja tanpa penutup di sisi depan. Seorang karyawan perempuan yang mengenakan rok tentu akan merasa risih jika harus duduk di belakang meja itu.

Contoh yang lain adalah konstruksi anak tangga. Ada beberapa gedung yang menggunakan anak tangga tanpa penutup di sisi kanan, kiri dan bagian bawah anak tangga. Bisa dibayangkan betapa tidak nyamannya apabila pegawai perempuan yang menaiki anak tangga itu mengenakan rok, sementara ada laki-laki yang sedang nongkrong di bawah anak tangga.

Tak hanya itu, masih cukup banyak kantor yang membiarkan para perokok dapat dengan bebas menikmati rokoknya. Tentu saja, hal ini akan sangat mengganggu kesehatan ibu hamil yang kebetulan berada dan bekerja di ruangan tersebut.

Peraturan Kepegawaian

Dalam hal peraturan kepegawaian/ketenagakerjaan pun terselip perlakuan yang diskriminatif. Salah satunya adalah penggunaan seragam. Masih banyak instansi—baik pemerintah maupun swasta—yang mewajibkan pegawai perempuan mengenakan rok. Bagi sebagian perempuan, mengenakan rok memang bukan masalah besar. Tetapi, bagi sebagian lain, mengenakan rok hanya menimbulkan kerepotan, terutama pada saat duduk, berjalan, atau berlari. Mereka harus berkali-kali merapikan roknya.

Selain seragam, cuti bersalin juga menjadi masalah tersendiri. Pasalnya, seorang perempuan hanya mendapat waktu 3 bulan untuk cuti bersalin. Padahal, seorang bayi seharusnya mengonsumsi air susu ibu (ASI) secara eksklusif (tidak diberi makanan lain selain ASI) selama 6 bulan pertama kelahirannya. Dengan cuti yang pendek itu, praktis si bayi tidak akan mendapatkan haknya.

Berwawasan Gender

Lantas, seperti apakah kantor yang berwawasan gender? Jelasnya, bukan kantor yang banyak memberi kemudahan atau keistimewaan bagi pekerja perempuan. Namun, kantor yang memberikan kesempatan dan kemudahan yang sama bagi pekerja laki-laki maupun perempuan.

Sebuah kantor yang berwawasan gender tentu tidak akan menabukan sebuah atau beberapa pekerjaan atau jabatan dipegang pekerja perempuan. Untuk meniti karir, kantor seperti ini akan memberikan penilaian yang obyektif kepada setiap pegawainya tanpa terkecuali dan tanpa membedakan jenis kelamin. Kantor ini akan menggunakan kinerja sebagai tolok ukur, bukan jenis kelamin.

Kantor yang baik akan memberikan kesempatan bagi seorang perempuan maupun laki-laki yang telah menjadi orang tua untuk tetap bekerja dengan tenang tanpa memikirkan anaknya secara berlebihan. Caranya, dengan menyediakan penitipan anak yang diasuh secara khusus oleh pegawai resmi juga. Di lingkungan kantor pemerintah, penitipan anak dapat diasuh oleh organisasi Dharma Wanita.

Penitipan anak ini tidak hanya akan membantu para pegawai perempuan. Karena, pegawai laki-laki yang secara kebetulan tidak memiliki pengasuh anak di rumah juga bisa memanfaatkannya. Selain itu, karena berada di bawah pengawasan kantor, pengasuh di penitipan anak juga tidak akan memperlakukan si anak secara sembarangan. Dengan begini, orang tua dapat bekerja dengan tenang dan tidak perlu terlalu sering telepon ke rumah atau pulang untuk sekadar menengok si buah hati.

Selain itu, kantor juga perlu menyediakan breastfeeding room (ruang khusus untuk menyusui). Fasilitas ini akan sangat bermanfaat bagi karyawan perempuan yang sedang dalam masa menyusui. Di kota besar seperti Jakarta, sudah ada tempat bekerja yang menyediakan fasilitas ini. Salah satunya adalah Pondok Indah Mall. Tempat belanja ini menyediakan fasilitas penitipan anak sekaligus breastfeeding room bagi para karyawannya dan pengunjung yang berbelanja.

Dalam hal seragam, dalam situasi apapun, baju seragam dengan celana panjang membuat siapapun menjadi lebih nyaman dalam bekerja karena bisa bergerak lebih bebas. Demikian pula pegawai perempuan. Kita tidak perlu lagi menabukan seragam dengan celana panjang bagi para karyawan perempuan. Dengan celana panjang, mereka justru bisa lebih aktif bekerja tanpa mengurangi estetika penampilan.

Di lingkungan swasta, sudah banyak instansi yang mengijinkan pegawai perempuannya mengenakan celana panjang, meskipun tak sedikit yang masih mengharamkannya. Tetapi, di lingkungan pemerintahan, masih sedikit instansi pemerintah yang mengijinkan pegawai perempuan mengenakan celana panjang. Di antara yang sedikit itu adalah Departemen Dalam Negeri, Departemen Kelautan dan Perikanan, dan Departemen Perhubungan.

Kenyataan-kenyataan ini tentunya harus menjadi perhatian kita bersama. Jangan hanya tergantung kepada kebijakan pemerintah atau saling mencari kambing hitam. Para pegawai perempuan pun tidak boleh tinggal diam. Mereka harus menunjukkan etos kerja yang maksimal sehingga melalui seleksi alam pun, perempuan mampu bersaing dengan tenaga kerja laki-laki.

Betty Wahyu Nilla Sari, S.T.P.

Staf pada Kantor Informasi dan Komunikasi

Pemerintah Kota Salatiga

 
template : Copyright @ 2010 HUMAS SETDA KOTA SALATIGA. All rights reserved  |    by : boedy's