MAJALAH HATI BERIMAN "MAJALAH BERITA WARGA KOTA SALATIGA"

21 Mei 2008

Legenda

Petilasan Eyang Sumo

Di satu sisi, ziarah ke sebuah petilasan dianggap perbuatan syirik. Di sisi lain, tak bisa dipungkiri bahwa masih banyak masyarakat kita yang merasa membutuhkan keberadaan sebuah petilasan.

Demikian halnya dengan petilasan cungkup eyang R. Sumo Ningrat. Petilasan berukuran 10x8 meter persegi ini terletak di tengah kebun warga Kauman Jadi di Kelurahan Kauman Kidul. Tentu saja, petilasan ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat setempat.

Sejarah petilasan ini berawal dari sebuah peristiwa saat Kerajaan Mataram masih dipimpin oleh Sultan Agung. Ketika itu, pasukan Kerajaan Mataram menyerang penjajah Belanda VOC di Batavia. Eyang Sumo, salah satu putra Sultan Agung dari salah satu isteri selirnya, adalah komandan pasukan Mataram itu. Selama peperangan itu, eyang Sumo dan pasukannya mengalami kekalahan. Karena kalah, eyang Sumo tidak kembali ke Mataram. Sesuai hukum Mataram yang berlaku saat itu, komandan pasukan yang kalah perang akan mendapat hukuman jika kembali ke Mataram. Untuk menghindari hukuman itulah, Eyang Sumo beserta anggota pasukannya yang masih hidup menetap di Kauman Kidul.

Menurut H. Arisno, BA, kelahiran eyang Sumo lebih awal jika di bandingkan Amangkurat I dari puteri permaisuri. “Lama-kelamaan, keberadaan R. Sumo Ningrat diketahui pihak keraton,” kata penduduk setempat yang masih memiliki garis keturunan dari eyang Sumo ini. Namun, eyang Sumo tetap menetap di Kauman Kidul sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di wilayah itu juga.

Sebagai keturunan keluarga kerajaan, setiap tahun, pusara makamnya selalu diberi kain putih. “Tetapi, pada jaman Jepang, kami tidak pernah mendapat bantuan kain kelambu putih,” tutur Arisno.

Sudah bukan hal yang aneh bahwa di petilasan makam kerabat kerajaan ada beberapa kejadian yang aneh. Namun, menurut Arsino, pada intinya, kejadian-kejadian aneh itu mengingatkan manusia untuk bertingkah laku baik dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Salah satu kejadian aneh yang pernah terjadi adalah proses pembangunan cungkup itu. Pembangunan cungkup R. Sumo Ningrat dilakukan oleh warga setempat karena mereka merasa mendapat bisikan hati. Namun, kijing yang berupa batu masih dibiarkan utuh seperti sediakala.

Sejak jaman Arisno muda hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang berziarah dan berdoa di bangunan itu. Suatu ketika, ada seorang warga yang sedang sakit dan minta petunjuk pada paranormal yang tinggal di Tegalrejo. Warga yang sakit ini diberi petunjuk supaya berziarah ke lokasi makam itu sambil berdoa kepada Tuhan. Usai berziarah dan berdoa, pasien itu mendapat petunjuk agar bagian tubuhnya yang sakit diberi debu. Setelah petunjuk itu diterapkan, ternyata dia sembuh dari penyakitnya.

Demikian halnya ketika Arisno beserta pemuda lain diuber-uber pemuda PKI dengan parang dan tongkat menjelang meletusnya G 30 S pada tahun 1965. Sebanyak 21 orang pemuda Kauman Kidul berkumpul di lokasi makam dan berdoa kepada Tuhan Yang Esa untuk menenangkan situasi yang mencekam. Ajaib, pemuda PKI yang mengejar mereka tidak tahu bahwa di lokasi makam itu ada beberapa pemuda sedang berdoa.

Pernah ada kejadian yang lucu di sekitar makam eyang Sumo. Ada seseorang yang sedang memburu tupai. Tupai itu melompat dengan lincah hingga akhirnya berada di atas pohon dekat makam. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, si penembak pun langsung memberondongkan tembakan. Tupai pun mati. Namun, seketika itu juga, si penembak mendapati sekujur tubuhnya gatal-gatal, bahkan seluruh tubuh terasa kejang. Penduduk sekitar yang mengetahui hal itu langsung bertindak dengan cepat. Mereka mengambil air putih dan membaca surat al Fatihah sebanyak tiga kali. Lalu, air putih itu diberi tumbuhan lumut kijing. Selanjutnya, campuran air putih dan lumut kijing diusapkan ke seluruh tubuh yang gatal. Dalam sekejap, si penembak menjadi sehat kembali.

Masih ada keanehan lain. Di sekitar makam ada tanaman yang cukup unik. Tanaman itu adalah pring pethuk, yakni tanaman bambu yang memiliki daun berwarna hijau dan kuning. Ada seorang warga yang menginginkan tanaman bambu itu dan meminjam gergaji. Ternyata tanaman itu tidak bisa dipotong.

Sebuah petunjuk gaib pun muncul dan menyatakan bahwa yang berhak memotong adalah Arisno. “Ternyata, saya bias memotongnya dengan baik,” kata Arisno. Potongan kecil pring pethuk pun diserahkan ke Keraton Solo. Ketika di Keraton Solo, kedua potongan kecil bambu itu ditekan sehingga dengan ajaib mengeluarkan batu berwarna merah dan putih.

Peziarah yang mengunjungi makam R. Sumo Ningrat biasanya membawa bunga mawar, bunga kantil, kenongo, dan boreh seperti parutan kunir. Bahkan, kita dapat menjumpai bekas bakaran kemenyan yang bertumpuk dan dupa harum di dekat kijing. Ini menandakan bahwa lokasi itu sering dipergunakan bersamadhi di malam hari untuk meminta petunjuk kepada Tuhan.

Di lokasi makam yang berbentuk bangunan permanen itu juga dijumpai beberapa makam kerabat keluarga eyang Sumo.(kst)



1 komentar:

Unknown mengatakan...

BUAT ANDA INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL SILAHKAN MENGHUBUNGI KI ANGEN RUSMAN DI NMR ( 082 334 222 676) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 10 X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT



BUAT ANDA INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL SILAHKAN MENGHUBUNGI KI ANGEN RUSMAN DI NMR ( 082 334 222 676) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 10 X TERBUKTI TRIM’S ROO,MX SOBAT

 
template : Copyright @ 2010 HUMAS SETDA KOTA SALATIGA. All rights reserved  |    by : boedy's