MAJALAH HATI BERIMAN "MAJALAH BERITA WARGA KOTA SALATIGA"

23 Juli 2009

KIPRAH; Panti Asuhan Cacat Mental

Selama ini telinga kita akrab dengan kata panti. Ada panti asuhan yatim piatu yang mengasuh anak-anak kurang mampu atau orang tua mereka telah meninggal. Selain itu ada panti wreda yang mengurusi orang lanjut usia (jompo).

Namun di Kota Salatiga ada panti yang berbeda denga dua sebelumnya, panti ini memilih mengurus anak-anak (siswa) yang cacat dalam segi mental. Anak asuh adalah mereka yang memiliki keterbelakangan dalam prilaku, yang biasanya pula mereka cacat secara fisik.

Nam lengkapnya Panti Asuhan Sumber Kasih, dibawah Yayasan Elisabeth. Posisi pasnya terletak di Jl. Purbaya 44 Karangalit, Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga. Didirikan pada tahun 1984 oleh misionaris Belanda bernama Nicolaas Antonius Rood. Namun panti ini baru mulai beroperasi pada tahun 1988.

Sejarahnya adalah mister Nicolas ditugaskan oleh negaranya di Indonesia, sesampai di negara kita beliu melihat banyak anak-anak yang terbelakang (cacat mental) tidak diurusi secara serius, baik oleh orang tua atau pemerintah.

Selanjutnya Mister Nicolaas bertemu dengan seorang notaris dari Kota Salatiga, Ny. EL Matu, keduanya sekarang sudah meninggal. Dari pertemuan tersebut Nicolaas menyampaikan gagasannya untuk dapat mendirikan sebuah panti yang dapat menampung anak-anak terbelakang. Dan gayung pun bersambut, akhirnya disepakati untuk mendirikannya di Salatiga.

Pada awqal kepengurusan Ny EL Matu sebagi Ketua, dr Harotono sebagai Wakil, Johnn Andreaeis sebagai sekretaris, dr. Anda Entri Sulistarigondo sebagi bendahara dan Mister Nicolaas sebagai Advisor.

Meskipun tujuan dari pendirian panti ini untuk menangani anak-anak cacat mental yang terlantar, ada pula kendala pertama didirikan. Hambatan dikarenakan nama yayasan ini adalah Elisabeth yang dikonotasikan oleh masyarakat untuk agama tertentu, sehingga ketika akan membeli lahan terhambat. Namun setelah sekian waktu diperoleh lokasi sekarang ini. “Padahal kami dalam pelayanan akan menangani semua siswa lintas agama. Jadi kami tidak membeda-bedakan semua yang ada di sini” terang Endang Murdaningsih selaku pengurus harian.

Sistem pembayaran di panti ini adalah mengunakan metode subsidi silang. “Dalam masalah biaya kami memungut dari orang tua atau wali. Bagi yang mampu kami menarik biaya lebih besar, sedangkan yang kurang mampu kami tarik sesuai dengan kemampuan. Harapannya adalah yang mampu menyubsidi yang kurang” tambah Endang.

“Selain itu kami juga membebaskan biaya bagi mereka yang tidak mampu. Biaya operasional panti ini dengan penggalangan dana, contohnya dengan penjualan hasil ketrampilan anak-anak, dan dari donator incidental” beber Endang.

Untuk pengajar/ pengasuh panti disediakan, namun ada pula kerjasama denga nperorangan dari Belanda sebagai Voulenteer (pontir). “Para pontir adalah mereka yang secara sukarelameluangkan tenaga dan pikiran untuk mengajar anak-anak. Ada juga tenaga kesehatan dan ketrampilan” ungkap Endang.

Materi ajar panti bermacam-macam, mulai dari mengenal huruf, angka, warna, olah raga (fitness, senam), ternak sederhana, sulam, snoozle, dan memasak. Anak-anak juga diajarkan untuk menerapkan kemandirian dalam hidup serta bersosialisasi.

Jumlah siswa sampai sekarang 32 siswa, terdiri dari 20 perempuan dan 12 putera. Umur mereka yang termuda 17 tahun dan yang tertua 54 tahun. “Ada dari siswa yang masuk dari sejak panti ini berdiri” terang Endang.

Sementara itu Dra. Kanik Sajarwo, selaku seksi pendidikan dan pengembangan anak menerangkan bahwa anak binaan di panti ini meskipun usianya sudah tua namun intelegensianya mirip anak usia 3-4 tahun. “Misalnya saja untuk bina mandiri seperti mandi ada sebagian yang harus dimandikan, tapi sebagian dari anak binaan sudah bias mandi sendiri” tambah ibu Kanik.

Masih menurut Endang, kelompok siswa dip anti adalah, pertama, Debil (intelegensia berkisar 70-90) sedang normalnya 100. kedua, Embisil (intelensia dibawah 70, antara 40-50), ketiga, Donsindrom (mongolisme/ wajah memiliki kemiripan), dan keempat, Autis pasif (tingkat ringan).

Keseharian siswa waktu edukatif mulai pukul 08.00 kebaktian sampai pukul 17.00 berkebun. Malam ada yang belajar bagi mereka yang sekolah diluar (ada anak yang sekolah di SMALB), sedang yang lain boleh nonton TV atau istirahat.

Mereka makan 3 kali sehari seperti di asrama panti lain, snack 2 kali serta minum susu bagi yang tidak diet, untuk yang diet minum teh.

Bagi para siswa yang sudah mandiri orang tua dapat menjemput pulang, karena jika sudah mandiri tidak khatir terjadi sesuatu yang membahayakan. “Namun tidak sedikit orang tua yang menitipkan anaknya meskipun mereka telah mandiri. Bahkan menjengukpun jarang, sehingga mereka tidak tahu cara bersosial dengan keluarga yang ada di rumah demikian pula tetangga. Yang miris lagi mereka tidak tahu nama adik dan kakak karena tidak pernah diajak pulang” keluh Endang.

Siswa yang mandiri di sini ada yang sudah mampu bekerja ringan, seperti di salon. Ada pula anak yang karya lukisannya banyak dibeli orang Belanda dan tamu yang datang. “Meskipun kerja di salon hanya melayani keramas, toh itu sudah membuahkan hasil meski tidak seberapa.siwa juga sering mengisi kegiatan Lion Club (menyanyi), bahkan siswa kami ada yang juara I Ebta-Ebtanas SDL:B Salatiga periode 2000-2001” ungkap Endang dengan bangga.

“Kami berharap masyarakat dan orang tua tidak merasa jijik kepada anak/orang yang mengalami cacat mental. Peran keluarga sangat penting untuk membentuk mereka untuk mendekati hidup wajar dan normal” pesan Endang(lux)

1 komentar:

hermin mengatakan...

Saya ingin sekali menyumbang kan buku2 atau peralatan 2 yg benar2 di butuhkan oleh yayasan ini, tolong di beri info lengkap, nama yayasan, alamat, jml siswa, apa yg benar2 di butuhkan dan keterangan tambahan lain. Terimakasih.

 
template : Copyright @ 2010 HUMAS SETDA KOTA SALATIGA. All rights reserved  |    by : boedy's