MAJALAH HATI BERIMAN "MAJALAH BERITA WARGA KOTA SALATIGA"

27 Januari 2008

Di tahun 2007 terdapat kasus yang cukup mengagetkan Dinas Kesehatan Kota Salatiga. Pada penelitian yang dilakukan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Kota Salatiga, ditemukan adanya telur nyamuk yang sudah mengidap virus demam berdarah.

Ditemui baru-baru ini dr. Erritrina Whisma didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kota Salatiga dr. Suryaningsih memaparkan seputar temuan yang belum dipublikasikan tersebut secara procedural.

“Benar saat ini terdapat penemuan yang mengejutkan Dinas Kesehatan Kota Salatiga, bahwa BBPVRP Kota Salatiga di tahun ini mendapati adanya telur nyamuk yang sudah mengandung atau sudag terjangkiti virus demam berdarah” papar Erritrina yang dibenarkan Kepala Dinas Kesehatan.

Daerah yang diteliti saat pada waktu itu adalah Kelurahan Kutowinangun Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga. Hal tersebut dikarenakan Kelurahan tersebut di tahun 2007 ini memiliki kasus penderita demam berdarah yang paling tinggi di Kota Salatiga.

“Kasus demam berdarah Kota Salatiga tahun 2007 cukup tingi bahkan bisa dikatakan terjadi ledakan. Di tahun 2006 kasus demam berdarah hanya diterdapat penderita sebanyak 57 kasus, sedangkan tahun 2007 meningkat drastic menjadi 157 kasus” terang Kepala Dinas Kesehatan.

Dengan adanya telur nyamuk yang sudah terjangkiti virus demam berdarah tentunya berbeda dengan persebaran penyakit tersebut yang terjadi sebelumnya. Wajarnya penyakit ini disebarkan oleh nyamuk dewasa yang menggigit penderita demam berdarah kemudian menggigit orang lain, dari peristiwa tersebut nyamuk menularkan virusnya. “Dulu nyamuk demam berdarah hanya bisa menularkan dari penderita satu ke calon penderita yang lain. Dalam artian kasus tersebut hanya bisa ditularkan oleh nyamuk dewasa. Namun sekarang berbeda. Karena telur nyamuk ada yang mengandung virus maka setelah nantinya telur nyamuk menetas dan dewasa dia bisa langsung menularkan virus DB. Jadi tanpa harus menggigit penderita penyakit DB dia sudah mampu menjadi penyebab penderita DM karena gigitannya tadi” jelas Erritrina.

Selama ini foging (penyemprotan nyamuk dan sarangnya dengan asap dicampur pestisida khusus) telah dilaksanakan, namun masih terdapat kasus penderita DB. Hal tersebut dikarenakan nyamuk bisa pergi ke tempat lain selama ada foging di daerahnya, dengan begitu kepindahan tersebut akan mengakibatkan pergantian wilayah penderita DB.

“Seharusnya nyamuk bisa mati terhadap semprotan asap yang diberi pestisida tersebut. Perlu diketahui bahwa pestisida jenis ini tidak berbahaya bagi manusia karena pestisida ini khusus dan hanya mampu membunuh nyamuk. Namun dalam kasus saat ini, selain nyamuk bisa kabur saat terjadi penyemprotan asap, mereka ternyata juga ada yang sudah kebal. Jadi meskipun sudah terkena semprotan mereka mampu bertahan hidup dan tetap bisa menularkan penyakit” ungkap Erritrina.

“Maka harapan dari Dinas Kesehatan adalah masyarakat tidak hanya menunggu dilakukannya foging di tempat mereka tinggal, namun seyogyanya masyarakat ikut aktif berperan serta di dalam pemberantasan sarang nyamuk” pinta Kepala Dinas.

Nyamuk penyebar virus Demam Berdarah adalah nyamuk elit atau rumahan. Bisa dikatakan begitu karena nyamuk ini hanya mau bertelur di genangan air yang bersih. Jika di tempat yang airnya lancar ataupun kotor di enggan bertelur. “Nyamuk penyebab penularan Demam Berdarah jenisnya adalah nyamuk aedes aegypty. Dia hanya mau hidup di tempat yang bersih seperti di rumah. Anehnya juga dia hanya mau bertelur di tempat yang airnya bersih. Jika di comberan atau di tempat-tempat sampah yang ada genangan air dia tadak mau bertelur” jelas Erritrina.

“Nyamuk aedes aegypti adalah nyamuk istimewa karena pola hidup dan reproduksinya berbeda dengan nyamuk biasa. Kalau nyamuk biasa bisa bertelur dimana ada genangan air sedangkan nyamuk ini tidak. Jika air tesebut bersinggungan langsung dengan tanah dia tidak mau bertelu di sana. Terhadap bau dia juga tidak suka, maka comberan bukanlah tempat mereka” tambah dr. Suryaningsih.

Nyamuk penyebar DB dapat diketahui dengan pola makannya, biasanya mereka mencari menggigit manusia pada pagi hari antara pukul 10.00 sampai pukul 12.00. sedangkan pada sore hari mereka menggigit pada pukul 13.00-16.00.

“Solusi yang tepat adalah memotong mata rantai perkembangbiakan nyamuk tersebut. Telur nyamuk ini menetas antara 7-10 hari. Maka kita harus menguras bak kamar mandi dan tempat-tempat air berseih yang tergenang di rumah kita minimal 1 minggu sekali. Jika kita rajin melakukannya dalam kurun waktu tersebut perkembangbiakan nyamuk akan terhambat. Dari pada menunggu foging lebih baik kita cegah sejak dini” ajak Erritrina.

“Foging hanya dilakukan jika terjadi kasus penderita di daerah tersebut, apakah kita membiarkan diri kita terkena DB baru difoging. Sikap yang kongkrit adalah program menguras, mengubur dan menutup sarang nyamuk. Melalui peran Dasa Wisma dan PKK program ini dapat berjalan. Program Jum’at bersih dan kerja bakti juga sangat besar manfaatnya bagi pencegahan penyakit DB ini” tambah Kepala Dinas.

Sedangkan di tempat lain yaitu BBPVRP, Dra. Widiarti, M. Kes sebagai Peneliti Madya yang telah diberi wewenang Kepala BBPVRP DR. Damar Tribuewono, MS yang juga Peneliti Madya memantapkan bahwa tanpa peran serta masyarakat, masyarakat tidak akan bebas dari Demam Berdarah.

“Anggapan masyarakat selama ini DB setelah demamnya menurun sudah aman dan akan sembuh, padahal ketika suhu turun itu adalah saat-saat yang kritis. Oleh karena itu jika terkena harus segera ke dokter. Tambah satu lagi, jangan pindah-pindah dokter karena jika pindah dokter akan memulai pendeteksian dari awal, karena dokter tidak tahu riwayat penyakit penderita sebenarnya” nasehat Widiarti.

“Peristiwa sudah tekandungnya virus dalam telur nyamuk disebut trans ovarial, karena nyamuk dewasa menularkan virus kepada telur yang akan di keluarkan. Dengan begitu setelah nyamuk dewasa dia dapat menjadikan orang sebagai penderita DB langsung tanpa harus menggigit penderita sebelumnya” tambah Widiarti.

Venomena tersebut ternyata tidak baru, sebab di luar negeri sudah pernah ditemukan penlaran virus dari induk nyamuk kepada telurnya. “Yang baru di Indonesia adalah kita mendapatkan langsung kasus dari masyarakat (lapangan), sedangkan di luar negeri adalah melalui penelitian terhadap nyamuk yang disengaja diberi virus. Mereka akhirnya menemukan bahwa nyamuk dengan virus DB telurnya juga bisa terkena viris” ungkap peneliti berjenjang eselon II ini.

“Di Kelurahan Kutowinagun telah ditemukan du tempat yang positif telur nyamuk mengandung virus DB. Kebetulan saya sendiri yang meneliti kasus ini. Setelah menetas virus membutuhkan waktu untuk berkembang, baru bisa menularkan. Ternyata dari hasil penelitian saya virus tersebut positif setelah sepuluh hari telur nyamuk menetas” papar Widiarti.

“Di Indonesia daerah lain yang saya dapati kasus serupa adalah di Karanganyar dengan 25 kasus (ini yang terbanyak), selain itu didapati pula di Tegal, Pati, Purwodadi, Kendal dan yang berbahaya adalah yang ditemukan di Semarang. Di kota ini nyamuk jenis lain (aedes albopictus) bisa menularkan virus DB” ungkap Widiarti.

“Yang perlu saya sarankan adalah program PSN (pemberantasan sarang nyamuk) dilaksanakan betul-betul. Dan perlu saya tekankan dalam menguras bak mandi dan yang lain diusahakan disikat dan disiram dengan air panas. Sebab kalau telur nyamuk tersebut tidak rusak, masih dapat menetas. Yang perlu diperhatikan lagi adalah telur nyamuk jenis ini mampu bertahan di tempat yang kering selama enam bulan” tambah Widiarti.

"Nyamuk jenis ini tidak suka terhadap sinar matahari, hidupnya di rumah, utamanya ditempat-tempat gelap seperti kolong

“Nyamuk jenis ini tidak suka terhadap sinar matahari, hidupnya di rumah, utamanya di tempat-tempat gelap seperti kolong, almari juga menempel di baju kotor berwarna gelap. Maka seharusnya foging dilakukan di dalam rumah jika yang ditargetkan adalah jenis aedes aegypti” tekan Peneliti yang rajin ini.(lux)

Tidak ada komentar:

 
template : Copyright @ 2010 HUMAS SETDA KOTA SALATIGA. All rights reserved  |    by : boedy's